SEMBALUN DAN PERTARUNGAN TRADISI-MODERN

SEMBALUN DAN PERTARUNGAN TRADISI-MODERN

Oleh: Paox Iben Mudhaffar

Syahdan, di sebuah lembah gelap gulita di Kaki gunung Rinjani hidup tujuh pasang suami istri. Kehidupan mereka masih sangat primitive. Lalu datang dua orang pendekar pengembara bernama Raden Harya Pati dan Harya Mangujaya.  Konon keduanya adalah utusan kerajaan Majapahit.  Dalam cerita yang tertulis di Lontar orang Sembah Ulun disebutkan bahwa keduanya adalah orang-orang sakti mandraguna, sebab hanya dengan menancapkan tombak maka dalam waktu semalam mampu merubah hamparan rawa yang luas menjadi tanah pertanian yang subur. Cerita itu memang terkesan tidak masuk akal. Tetapi dari nalar cerita itu kita jadi tahu bahwa kedua orang itulah yang mengajarkan kepada masyarakat Sembalun yang tadinya hidup dalam budaya berburu dan meramu sehingga mengenal budaya pertanian.  Kedua orang itu juga mengajarkan bagaimana menata masyarakat agar senantiasa harmoni dengan alam. Mereka juga mengajarkan tentang ketuhanan. Karena itu kampung tertinggi di Pulau Lombok itu dinamakan SEMBAH ULUN. Menyembah Diri (Tuhan). Setelah tugas itu selesai, konon keduanya Moksa.

Untuk mengenang keduanya, Masyarakat Sembalun membangun sebuah petilasan atau Maqom (Bukan Makam/kuburan) yang dijadikan sebagai sentra ritus. Setiap empat tahun sekali dalam hitungan Kalender Sembalun, diadakan ritus Mangayu-ayu atau merawat Alam agar senantiasa lestari. 13 Pemuda terbaik–yang sudah digembleng secara fisik dan spiritual–ditugaskan oleh pemangku adat untuk mengumpulkan air dari 13 Mata Air yang tersebar di Pulau Lombok. Selama berhari-hari mereka berjalan memasuki hutan belantara, bertemu dengan binatang buas dan marabahaya lainnya untuk mendapatkan air suci; air yang mengalir langsung dari Sumber Mata air. Air itulah yang digunakan sebagai kelengkapan utama dalam upacara Mengayu-ayu, Mangayu Hayuning Bawana (Menjaga kelestarian dunia).Menurut H. Purnipa, tetua adat Sembalun, dalam ajaran Islam Air adalah hal yang utama. Sebab kita diajarkan untuk menghormati air sebagai lambang pembentuk kehidupan. “Air itu suci, karena itu dalam Islam pertama-tama kita diajarkan untuk ber-Taharrah,” Ungkapnya.  Hunting mat air itu bisa juga dimaknai sebagai upaya untuk mengetahui kondisi hutan dan Mata air yang ada. “Dengan cara seperti itu kita bisa tahu mana hutan yang rusak dan harus segera diperbaiki  sehingga keberadaan Mata air bisa tetap terjaga dan lestari,” imbuhnya.

            Dalam Ritus mangayu-ayu itu juga digelar berbagai ritual dan atraksi budaya. Ada perang Perang Bala Perang melawan Jin, Setan dan Penyakit. Sebab konon pernah terjadi malapetaka,  yang disimbolkan dengan membakar semacam kemenyan yang diarak keliling kampong  dengan mantra-mantra tertentu. Sebab konon pernah terjadi malapetaka, ratusan orang tiba-tiba meninggal terkena wabah yang tidak diketahui juntrungannya. Dan setelah diadakan ritus itu (Bebija Tawar/Penyembuhan) maka Wabah itupun berangsur menghilang.  Dalam dunia modern kita tahu ini seperti tekhnik pengasapan (Fogging) untuk sterilisasi penyakit menular dan hama tanaman. Lalu dilanjutkan dengan perang Topat; melempar topat. Itu mengandung arti supaya masyarakat mau saling berbagi dan memaafkan.

Dalam Ritus Mangayu-ayu itu biasanya juga digelar pasukan/ Laskar Sembah Ulun yang bersenjatakan lengkap (Tombak, parang dan perisai) dengan membawakan tarian Tandang Mendet atau tarian keprajuritan. Selain gerakan-gerakan dan formasi yang penuh makna filosofis, gelar pasukan ini juga memperlihatkan kesiapan mereka untuk menjaga gawah gunung (Hutan dan gunung berikutisinya) dari berbagai gangguan tangan-tangan jahil perusak alam.

***

Desa Sembalun (sekarang telah dimekarkan menjadi kecamatan) merupakan sebuah perkampungan yang cukup makmur. Mungkin karena letaknya yang berada di lembah (bekas kawah purba) Gunung Rinjani, sehingga daerah ini cukup subur dan dikenal sebagai sentra pertanian terutama sebagai penghasil bawang putih, sayur-sayuran dan kentang. Sejak dulu Masyarakat Sembalun cukup bergiat dalam soal kesenian. Selain ritus adat mengayu-ayu, pada tahun 1968 mereka sudah membentuk group keroncong bernama SINAR RINJANI.

“Saya menjual 2 ekor sapi untuk mebeli viol (biola) dan kontra bass. Teman teman juga melakukan hal yang sama sehingga kita bisa punya acordion dll,” katanya. sayapun hampir menitikkan air mata bagaimana melihat kesungguhan mereka, membayangkan Sembalun waktu itu yang masih dikelilingi hutan tetapi memiliki kelompok musik yang cukup modern.

            “Setelah itu kita membuat kelompok Teater RAkyat yang membawakan kisah-kisah seperti Cilinaya dll. Banyak sekali undangan mentas, sampai ke Lombok utara (Pemenang) dan Lombok Barat. dari situ kita bisa menabung bahkan menymbang pembangunan masjid,” lanjutnya.”Waktu itu kita mesti berjalan kaki 30 km samapai aikmel atau Bayan dulu sebelum naik kendaraan. Alat-alat musik itu dipanggul ramai-ramai.” kenangnya.”Saat itu kita benar-benar menjadi idola mas,”Kata para tetua. “Banyak yang tertawa terpingkal-pingkal atau menangis tersedu ketika kita membawakan cerita-cerita itu. ” kenang yang lain. beberapa tetua bahkan menirukan beberapa dialog, tembang dan ekspresi dalam lakon Cilinaya.

            Puncak kejayaan pertanian di Sembalun terjadi sekitar pertengahan tahun 80-an. Karena ketenaran bawang putihnya  itu pada tahun 1985 Presiden Suharto saat itu melakukan panen perdana Bawang Putih di Sembalun. Tetapi Sejak kedatangan Suharto itu, keadaan pertanian di Sembalun justru semakin merosot. Selain harga bawang putih yang terus anjlok,  tanah-tanah yang cukup strategis disekitar Sembalunpun habis untuk diserahkan kepada keluarga Cendana dan dibagi-bagi oleh pejabat waktu itu. Sehingga banyak sekali tanah-tanah di sembalun yang dibiarjkan terbengkalai dan sebagian tidak diketahui siapa pemiliknya. Sudah jatuh tertimpa tangga pula, sementara lahan pertanian yang subur itu juga semakin berkurang tingkat kesuburannya. Mungkin karena terlalu bersemangat untuk memajukan pertanian, para petani menggunakan zat-zat kimia yang berlebihan serta bibit-bibit impor yang mengandung bakteri serta penyakit menular. Akibat kemunduran pertanian itu, banyak warga sembalun yang memilih bekerja ke luar daerah hingga menjadi TKI/TKW ke luar negeri. Kondisi ini tentunya patut disesalkan.

Berada dalam ketinggian anatara 1050-1300meter DPL menempatkan Sembalun sebagai perkampungan tertinggi di Pulau Lombok. Sebagai desa yang menjadi pintu pendakian Taman Nasional Gunung Rinjani, akses jalan ke Sembalun cukup bagus sehingga Sembalun selalu ramai dikuncungi wisatawan baik domestic maupun manca Negara.  Sayangnya, hal-hal yang berbau tradisional—seperti bangunan atau arsitektur local mulai menghilang digantikan oleh rumah-rumah beton .  Begitu juga dengan perilaku dan sikap masyarakatnya yang mulai tidak ramah lingkungan.  Kondisi ini tentu patut disesalkan, disatu sisi ada warga yang berpegang teguh pada ranah tradisi dan kearifannya, disisi lain lebih banyak warga yang mengabaikan tradisi bahkan menganut faham keragamaan garis keras yang menganggap ritus-ritus budaya itu sebagai sesuatu yang khurafat syirik dsb. Sementara kalangan menengah terdidik yang sempat sekolah hingga ke luar daerah ketika masa kejayaan bawang putih, menganggap ritus-ritus dan gaya hidup tradisional itu sebagai sesuatu yang udik dan kampungan.

Sebagai perkampungan yang paling dekat dengan Gunung Rinjani keberadaan desa-desa di wilayah Sembalun sangat penting untuk menjaga kelestarian alam, terutama yang menyangkut keberadaan hutan disekitar gunung Rinjani. Sebab selain merupakan Gunung berapi aktif tertinggi ketiga di Indonesia, hamper seluruh pulau Lombok sangat bergantung kepada keberadaan Rinjani. Kita misalnya tidak bisa membayangkan bagaimana jika hutan-hutan itu rusak, tentu mata air diseluruh pulau Lombok akan menyusut. Iklim juga akan semakin memanas, lahan-lahan pertanian akan mengalami kekeringan, konflik sosialpun akan semakin kerap terjadi.

Oleh karena itu sudah semestinya, penataan kawasan Sembalun dan sekitarnya harus lebih mengacu pada kearifan local yang ada. Sebab hanya orang gunung yang mengerti gunung. Sementara untuk penataan Sembalun sebagai desa wisata juga harus diimbangi dengan recoveri kehidupan tradisi dan peningkatan kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian alam (eco-wisata). Sebab banyak orang-orang “kota’ yang mengaku pecinta alam justru menjadi perusak alam. Para pendaki Rinjani itu misalnya, mereka  tidak hanya membuang sampah sembarangan, tetapi juga menebangi batang kayu dan ranting sepanjang jalur pendakian untuk dijadikan tongkat.

***

Beberapa waktu ini pemerintah melalui PU memang membangun kembali beberapa infrastruktur adat seperti Rumah-rumah peninggalan masa lalu (Desa Beleq) dan rumah adat di lapangan Desa yang berdekatan dengan situs Maqom Sembah Ulun. Sayangnya, masyarakat pada umumnya –termasuk tokoh-tokoh adat di Sembalun tidak dilibatkan dalam perencanaan maupun kegiatan pembangunannya. Mereka bahkan tidak tahu siapa yang memiliki inisiatif itu dan siapa pula kontraktor yang mengerjakannya. Mereka hanya tahu bahwa saat ini telah berdiri bangunan-bangunan adat yang ‘mentereng’ tetapi sangat tidak sesuai dengan gambaran atau konstruksi yang mereka harapkan.

 “Bentuk bangunannya menyalahi model aslinya, mas.” Kata salah seorang pemuka adat. ‘tangga yang harusnya berjumlah tujuh tingkat jadi lima, sementara atap itu juga kurang tinggi,” tambahnya. “Kenapa lantainya tidak dari tanah? Bolehlah beton biar awet, tapi harusnya dilapisi tanah agar kelihatan keasliannya,” kata yang lainnya. Mungkin bagi sebagian orang hal-hal seperti itu –jumlah tangga tidak berarti apa-apa. Tetapi bagi masyarakat tradisi apapun yang berkaitan dengan adat itu tentu sarat dengan makna dan nilai filosofis. Mereka juga tidak tahu bangunan-bangunan itu untuk apa, diperuntukkan bagi siapa, dan siapa yang akan merawatnya, sebab krama adat juga merasa tidak dilibatkan.

Para kawula muda bersemangat mengikuti jalannya upacara…

Ribuan masyarakat berkumpul dan berdesakan untuk mengikuti jalannya upacara…

One Response

  1. […] HowStuffWorksCeline Liviani Asal Indonesia Punya Prestasi GemilangKonser Slash Ajak Band-band MudaSEMBALUN DAN PERTARUNGAN TRADISI-MODERN .set-header:after{ background-image: […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s