Kearifan Lokal; Menjaga Keseimbangan Alam

Di Tulis Oleh : SaMsul Anwar

"Masjid Kuno bayan Waktu telu"

Bangsa ini berduka lagi. Banjir bandang di Wasior; gempa dan sunami di Sumatra Barat, tepatnya di pulau Mentawai; meletusnya gunung berapi yang baru-baru ini terjadi di Klaten, Yogyakata, Jawa Tengah.
Bencana ini akan terus mengancam, kapan dan di mana pun. Tidak ketercuali Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Pulau yang memiliki luas ± 4.738, 7 Km2 ini dengan dikelilingi oleh lautan. Disamping itu juga pulau Lombok memiliki tujuh gunung ( Rinjani, Mareja, Timanuk, Nangi, Perigi, Pelawangan, Baru), dengan Gunung Rinjani yang tertinggi mencapai 3.775 m. Kondisi ini sewaktu-waktu bisa menjadi ancaman, kapan saja terjadinya bencana alam seperti gempa bumi yang dilanjutkan dengan sunami dan meletusnya gunung merapi.

Pulau Lombok yang di diami oleh 90 % suku Sasak ini, mayoritas beragama Islam (94,8 %), Kristen Protestan (0,2 %), Kristen Katolik (0,1 % ), Hindu (3,7 %), dan Budha (1, 2 %). Mayoritas Islam di Pulau Lombok ini berdampak pada terjadinya akulturasi agama Islam dengan buday lokal atau keyakinan lolak Sasak (Sasak Boda) yang melahirkan corak baru.

Islam Wetu Telu

Agama apapun di dunia ini tidak berada pada vakum budaya setempat. Islam datang ke Indonesia pun sudah ada budaya atau keyakinan lokal (tribal religion) setempat yang sudah mengakar. Begitu juga Islam datang ke Pulau Lombok juga sudah mengakar budaya dan keyakinan lokal setempat. Di sinilah Islam sebagai pendatang dengan agama asli memaikan perannya untuk berdialog kratif, bernegosiasi yang menghasilkan budaya baru, bernuansa Islam bercampur adat-istiadat.
Islam wetu telu adalah bukti inkulturas, akulturasi Islam dan budaya atau keyakinan lokal. Wetu telu idenitik dengan mereka yang sangat berpegang pada ada istiadat leluhur mereka tetapi tetap seorang muslim. Dan praktik dalam kehidupan sehari-hari diakulturasikan dalam bentuk idiom adat. Seperti ritua gawe urip; ritual buang au, ritual ngurisang, ritual ngitanan, ritual merosok, merariq/maling, metikah, ruah bale; Ritual Gawe Pati; nusur tanah, nelung, mituk, nyiwak, matang puluh, nyatus, dan nyiu

Konsep Kosmologi Wetu Telu

Istilah wetu sering diartikan waktu oleh mayoritas Islam. Sehingga wetu telu merujuk kepada sistem keyakinan yang mereduksi dalam segala sesuatu ke dalam tiga kategori. Padahal tidak demikian. Wetu, menurut para pemangku adat berarti muncul, datang dari. Sehingga secara harfiah wetu telu diartikan sebagai siklus kehidupan mahluk hidup. Artinya, wetu telu yaitu menganak atau melahirkan seperti manusia dan mamalia; menteluk atau bertelur seperti burung; mentiuk atau tumbuh seperti tumbuh-tumbuhan, biji-bijian, pohon, buah-buahan dan lainya. Dengan demikian semua mahluk yang tercipta pasti melalui tiga tahap tersebut dengan memiliki cara kehidupan masing-masing dalam menyelaraskan diri dengan lingkungan lain.

Dalam konsep kosmologi wetu telu, kehidupan mahluk hidup harus seimbang dan selaras. Sehingga dalam keyakinan wetu telu kosmologi dibagi ke dalam dua kategori. Yaitu jagad besar (mayapada) dan jagat kecil.

Jagat Besar dan Jagat Kecil

Jagat besar yaitu alam semesta seperti matahari, tanah, air, bintang, bulan dan lainya. Sedangkan jagat kecil menunjuk pada manusia dan mahluk-mahluk yang bergantung pada alam semesta.

Ketergantungan ke dua dunia ini menjadikannya menjadi satu dunia, dan dari keseimbangan tatanan alam semesta berkerja. Ketergantungan jagat kecil terhadap jagat besar terlihat pada kebutuhan sehari-hari jagat kecil pada air, tanah, sinar matahari untuk mengeringkan dan lainnya. Begitu juga sebaliknya ketergantungan jagat besar terhadap jagat kecil dalam pelestariannya terhadap air, tanah dan alam semesta. Oleh karena itu, manusia merupakan bagian yang penting dalam pelestariannya. Apabila manusia yang merupakan komponen penting, mengekploitasi berlebihan terhdapa jagat besar, maka keseimbangan kosmos akan terganggu. Terganggunya keseimabangan kosmos terlihat dengan banyaknya bencana alam seperti banji, longsor, kekeringan dan lain sebagainya.

Konsep kosmos ini menjadi sistem pandangan hidup bahkan sampai sekarang. Sebagai pandangan hidup keyakinan wetu telu, tentu berimplikasi juga pada kehidupan sehari-hari yang terimplementasi pada ritual adat istiadat mereka.

Misalnya ritua upacara ngayu ayu tirta. Yaitu ritual pengambilan air dari mata air yang mana telah berada pada waktu desa itu ada. Kemudian dijaga oleh para pasukan prajurut desa yang siap berperang demi menjaga air suci tersebut.

Ritual ngaji makam turun bibit, yaitu membaca doa, yang diselenggarakan pada saat musim tanam, ngaji makam tunas setamba, yang dilakukan saat penyuburan tanah, dan ngaji makam ngaturang ulak kaya, yang diselenggarakan pada saat panen.

Tata cara menjaga dan mengelola tanah warisan leluhur. Setiap tanah warisan leluhur haram hukumnya dijual. Jikalau dilanggar, maka orangnya akan terkena murka leluhurnya sehingga hidupnya akan banyak mala petaka. Inilah kearifan lolak kita.

Dengan demikian, kearifan lokal yang kita miliki dan praktek ritual wetu telu yang banyak dipraktekkan dalam ritual adat berfungsi sebagai pengendali tingkah laku manusia yang tidak hanya untuk jagat kecil saja melainkan juga jagat besar. Tujuan ritul-ritual itu dijalankan untuk menjaga hubungan harmonis antara jagat alam raya ini dengan manusia.

One Response

  1. arif berarti jangan pernah ada kehendak untuk mendeskreditkan budaya oleh unsur apapun. budaya sejatinya dilestarikan dan agama dikembangkan atas dasar prinsip harmonisasi antar keduanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s