Kisah Inspiratif : Kisah Pengorbanan Ibu Miskin

Oleh: Abdul Muid

Pada kesempatan ini, sebenarnya saya ingin berbagi kisah kepada ikhwan dan akhwat mengenai kisah yang pernahsaya alami ketika saya Berjualan Hewan Qurban. Kisah ini terjadi ± tahun 1995, sudah cukup lama memang, namun setiap ingin memasuki I’dul Adha saya selaluteringat dengan kejadian yang pernah saya alami ini, dan sampai saat ini saya tidak pernah melupakannya.

Awalnya saat saya sedang menjajakan dagangan bersama teman (kami berempat waktuitu), kami mengeluh karena sudah 3 hari kami berdagang baru 6 ekor yangterjual, tidak seperti tahun sebelumnya, biasanya sudah puluhan ekor lakuterjual dan hari raya sudah didepan mata (tinggal 2 hari lagi). Kami cukupgelisah waktu itu. Ketika sedang berbincang salah seorang teman mengajak sayauntuk sholat ashar dan saya pun bersama teman saya berangkat menuju masjid yangkebetulan dekat dengan tempat kami berjualan. Setelah selesai sholat, sepertibiasa saya melakukan zikir dan doa. Untuk saat ini doa saya fokuskan untukdagangan saya agar Allah memberikan kemudahan semoga kiranya dagangan saya laku/ habis terjual.

Setelah selesai saya dan teman kembali bergegas untuk kembali ke tempat kamijualan, dari kejauhan kami melihat ditempat kami berjualan banyak sekali orang disana dan terlihat teman kami yang berada disana kesibukan demi melayani calonpembeli. Akhirnya saya dan teman saya berlari untuk cepat membantu melayaniteman kami. Alhamdulillah pada saat itu sudah ada yang membeli beberapa ekorkambing. “Terima kasih Ya Robb, Engkau telah mendengar dan menjawab doa kami�, Syukur saya dalam hati.

Namun setelah semuanya terlayani dan keadaan kembali normal, saya melihatseorang ibu-ibu sedang memperhatikan dagangan kami, seingat saya ibu ini sudahlama berada disitu, pada saat kami sedang sibuk ibu ini sudah ada namun hanyamemperhatikan kami bertransaksi. Saya tegur teman saya “Ibu itu mau beli ya ?dari tadi liatin dagangan terus, emang gak ditawarin ya ?, sepertinya dari tadiudah ada disitu. KayaknyaCuma liat-liat aja, mungkin lagi nunggu bus kali. Jawab teman singkat. Memangsih kalau dilihat dari pakaiannya sepertinya gak akan beli ( mohon maaf.. ibu
itu berpakaian lusuh sambil menenteng payung lipat ditangan kanannya) kalaudilihat dari penampilannya tidak mungkin ibu itu ingin berqurban.

Namun saya coba hampiri ibu itu dan coba menawarkan. “Silahkan bu dipilihhewannya, ada niat untuk qurban ya bu ?. Tanpa menjawab pertanyaan saya, ibu itu langsung menunjuk, “Kalau yang itu berapa bang ?â€� Ibu itu menunjuk hewan yang paling murah dari hewan yang lainnya. Kalau yang itu harganya Rp.600.000,- bu, jawab saya. Harga pasnya berapa bang ?, gak usah tawar lagi yabu… Rp 500.000 deh kalau ibu mau. Fikir saya memang dari harga segitukeuntungan saya kecil, tapi biarlah khusus untuk ibu ini. “Uang saya Cuma ada450 ribu, boleh gakâ€�.  aduh… saya bingung, karena itu harga modal kami,akhirnya saya berembug dengan teman yang lain. “Biarlah mungkin ini jalanpembuka untuk dagangan kita, lagi pula kalau dilihat dari penampilannyasepertinya bukan orang mampu, kasihan, hitung-hitung kita membantu niat ibu ituuntuk berqurbanâ€�. Sepakat kami berempat. “Tapi bawa sendiri ya.. ?â€� akhirnya siibu tadi bersedia, tapi dia minta diantar oleh saya dan ongkos bajaj-nya dia
yang bayar dirumah. Setelah saya dikasih alamat rumahnya si ibu itu langsungpulang dengan jalan kaki. Saya pun berangkat.

Ketika sampai di rumah ibu tersebut. Subhanallaah….. Astaghfirullaah…..Alaahu Akbar, merinding saya, terasa mengigil seluruh badan saya demi melihatkeadaan rumah ibu tersebut. Ibuitu hanya tinggal bertiga dengan orang tuanya (ibunya) dan satu orang anaknyadi rumah gubuk dengan berlantai tanah dan jendela dari kawat. Saya tidak
melihat tempat tidur/ kasur, yang ada hanya dipan kayu beralas tikar lusuh.Diatas dipan sedang tertidur seorang perempuan tua kurus yang sepertinya dalamkondisi sakit. “Mak … bangun mak, nih liat Sumi bawa apaâ€� (oh ternyata ibuini namanya Sumi), perempuan tua itu terbangun dan berjalan keluar. “Ini ibusaya bangâ€� ibu itu mengenalkan orang tuanya kepada saya. Mak Sumi udah beliinkambing buat emak qurban, ntar kita bawa ke Masjid ya mak. Orang tua itu kagetnamun dari wajahnya terlihat senang dan bahagia, sambil mengelus-elus kambingorang tua itu berucap, Alaahu Akbar, Alhamdulillaah, akhirnya kesampaian jugaemak qurban.

“Nih bang duitnya, maaf ya kalau saya nawarnya telalu murah, saya hanya kulicuci, saya sengaja kumpulkan uang untuk beli kambing yang mau saya niatkan buatqurban ibu saya. Aduh GUSTI……. Ampuni dosa hamba, hamba malu berhadapandengan hambaMU yang satu ini. HambaMU yang Miskin Harta tapi dia kaya Iman.Seperti bergetar bumi ini setelah mendengan niat dari ibu ini. Rasanya sayasudah tidak sanggup lagi berlama-lama berada disitu. Saya langsung pamit meninggalkan kebahagiaan penuh keimanan mereka bertiga.

“Bang nih ongkos bajajnya.!, panggil si Ibu, “sudah bu cukup, biar ongkos bajajsaya yang bayar. Saya cepat pergi sebelum ibu itu tahu kalau mata ini sudahbasah, karena tak sanggup mendapat teguran dari Allah yang sudah mempertemukansaya dengan hambaNYA yang dengan kesabaran, ketabahan dan penuh keimanan ingin memuliakan orang tuanya.

3 Responses

  1. T_T
    saya juga nangis bacanya

  2. ALLOHU’AKBAR..

  3. aduhhh sedih banget saya langsung meneteskan air mata pas baca kisah ibu sumi yg berbakti pada org tua,,,
    biar miskin tapi kaya iman,,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s