PERANG POSISI; MENGHADANG GENERASI “ONGKAH-ONGKAH”

Oleh : Samsul Anwar

Kita generasi baru ditugaskan untuk memberntas generasi tua yang mengacau,

Kita adalah hakim yang dituduh koruptor-koruptor tua,

Kitalah generasi yang memakmurkan Indonesi (Soe Hok Gie)

Mahasiswa adalah agen perubahan dan sosial. Tetapi apa jadinya ketika mahasiswa tidak lagi menjalankan fungsinya?Mahasiswa tidak lagi duduk dan berdiskusi di kantin-kantin, di taman-taman dan lorong-lorong kampus (red: uin Jakarta). Mahasiswa tidak lagi menyukai kajian-kajian kritis. Mahasiswa tidak lagi menyukai aksi-aksi dalam menyuarakan suara-suara rakyat. Mahasiswa lebih menyukai “nongkrong” dan ngopi-ngopi dengan membicarakan hal-hal yang tidak penting atau mengecek hand phone yang belum tentu memiliki pulsa.

Gaya hidup mereka pun kian menjadi hedonis, tidak lagi mempedulikan lingkungan sekitar mereka. Malu, bagi mereka untuk turun ke jalan atau berdemonstrasi. Karena banyak dilihat orang dan takut akan panas teriknya matahari, membuat kulit-kulit putih mereka menjadi hitam.

Perubahan Factor Determinan

Kehidupan mahasiswa yang hedonis, lebih suka “nongkrong” yang tidak jelas, ngumpul-ngumpul tanpa ada tujuan, dan lain-lain dapat kita jelaskan misalnya dalam teori sosial.

Asumsi umum dalam teori ilmu sosial menyebutkan bahwa perubahan adalah factor determinan dalam perubahan perilaku seseorang. Cakupan konsep perubahan adalah yang diidentifikasi sebagai pembangunan dan perkembangan (development), kemajuan (progresif), modernisasi, reformasi, transformasi, revolusi, dan lain-lain. Perubahan yang terus-menerus secara berlanjut serta dalam skala waktu dan ruang yang makin luas, maka makin berkomplikasi dan berakumulasi dalam seluruh segi kehidupan dari makin banyak segmen sosial dan pertumbuhan yang makin dipercepat (Prisma, No 1 – 1998).

Pembangunan gedung-gedung kampus (red: uin Jakarta) bagaikan gedung pencakar langit dengan segala fasilitasnya; kantin-kantin atau kafe-kafe kecil bermunculan; komersialisasi lahan kampus, misalnya pengelolaan lahan parkir motor untuk mahasiswa  dikelola oleh perusahaan swasta dengan memunguti uang parker kepada mahasiswa. Sehinga kampus tidak lagi sebagai tempat mencari kebenaran; kampaus tidak lagi sebagai tempat para intelektual merumuskan dan mengkritisi kebijakan pemerintah, tetapi lebih sebagai tempat mall-mall di kota besar.

Kondisi demikian dapat mempengaruhi perilaku, tingkah laku dan pola kehidupan mahasiswa. Individualis, gaya hidup yang mewah, berpakaian ala artis, sibuk dengan tanggapan-tanggapan status di facebook dan tidak lagi kritis dengan kondisi sosial masyarakat sekitar adalah dampak dari kondisi tersebut. Apa jadinya dunia ini kalau kondisi mahasiswanya seperti itu…

Revolusi Kesadaran

Untuk itu kita membutuhkan sebuah kesadaran yang mendalam, itulah revolusi kesadaran. Revolusi kesadaran seperti dalam pemikiran Gramsci yaitu the war of position, perang poisisi. Yakni sebuah peperangan moral dan intelektual (Kholis Malik, opini). Sehingga dapat membangkitkan kesadaran kritisnya. Kesadaran terhadap kondisi sosialnya; kesadaran terhadap keterkungkungan atau keterbelenguan modernisme yang mengakibatkan hedonis, individualis dan keteralianasi.

Dalam kerangka revolusi kesadaran, kita juga membutuhkan peran mahasiswa organik. Yaitu mahasiswa yang sadar akan konsidi lingkungannya dan ke mana dia akan mengabdikan diri. Memperjuangkan hak-hak rakyat dan menumpas para koruptor. Sebagaimana kata-kata Soe Hok Gie “Kita adalah generasi baru ditugaskan untunk memberantas generasi tua yang mengacau, kita adalah hakim yang dituduh koruptor-koruptor  tua, kitalah generasi yang memakmurkan Indonesia”.

Oleh karena itu, kemandirian dan karekter serta intelektua kritis sebagai mahasiswa harus dimiliki dalam menghadapi berbagai kondisi sosial yang kian komplek, dalam rangka memperjuangkan kesejahteraan yang adil dan beradab.

4 Responses

  1. kritik dengan cara yang positif kan, aksi yang membangun

    bukan dengan aksi bakar ban kan?😀

  2. sip betul…qta gunakan soft power…tp dengan daya dobrak yang jitu..trima kasih

  3. mantap!! softpower…!!
    ditunggu strategi nya😀

  4. -kata Soe Hok Gie “Kita adalah generasi baru ditugaskan untunk memberantas generasi tua yang mengacau, kita adalah hakim yang dituduh koruptor-koruptor tua, kitalah generasi yang memakmurkan Indonesia” Sangat Suka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s