SEPINTAS TENTANG KONSEP ILMU DALAM ISLAM

Oleh : Abdul Muid

Islam merupakan agama yang komprehensif, akomodatif, universal, dan sangat relavan terhadap berbagai zaman. Islam datang sebagai kekuatan yang dahsyat untuk menjadi pedoman kehdupan dunia, dengan berbagai wahyu yang diturunkan oleh Allah melalui utusanNya Nabi Muhammmad saw telah merubah tatanan nilai, budaya dan keilmuwan yang dasarnya merupakan dasar deabolis (baca : syirik) menjadi transformasi yang universal yang tidak akan pernah sirna oleh komedrenan zaman. Nilai, budaya dan ilmu yang yang diwariskan Islam dalam formasi Al-Qur’an dan hadist merupakan warisan Islam yang tidak akan pernah musnah walaupun zaman berubah setiap saat, karena Allah telah berjanji bahwa Allahlah yang akan selalu menjaga keotentikan warisan tersebut.

Islam datang dengan ilmu, dengan berbagai konsep dan dasar yang telah dipondasikannnya, Islam sangat menghargai ilmu, Allah berfirman dibanyak ayatnya salah satunya
Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.[1]

selain al-Qur’an Rasulullah memrintahkan kaum muslimin untuk menuntut ilmu.

من جاءمسجدى هذالا ياته الالخير يتعلمه اويعلمه فهو بمنزلة المجاهد في سبيل الله ومن جاء لغير ذالك فهو بمنزلة الرجل ينظرالى متاع غيره

Dan banyak lagi ayat maupun hadist yang mengemukakan keutamaan ilmu, keutamaan para penuntut ilmu, dan ganjaran orang yang menuntut ilmu, teman-teman bisa lihat di kitab-kitab hadist karangan ulama-ulama besar kita.

Selain pentingnya ilmu, para ulama kita juga memadukan ilmu dengan amal, fikir dan zikir, akal dan hati. Kondisi tersebut tampak jelas dalam contoh kehidupan para ulama kita, seperti Abu Hanifah, Imam Syafi’i dan Imam Bukhari. AlHakam bin Hisyam alTsaqafi mengatakan: “Orang menceritakan kepadaku di negeri Syam, suatu cerita tentang Abu Hanifah, bahwa beliau adalah seorang manusia pemegang amanah yang terbesar. Sultan mau mengangkatnya menjadi pemegang kunci gudang kekayaan Negara atau memukulnya kalau menolak. Maka Abu Hanifah memilih siksaan daripada siksaan Allah Ta’ala.” [2]AlRabi mengatakan: “Imam Syafi‘i menghkatamkan alQur’an misalnya,
dalam bulan Ramadhan, enam puluh kali. Semuanya itu dalam shalat.
Bukan saja dalam ilmu ilmu agama, ulama kita yang berwibawa telah mewariskan kita berbagai karya yang sehingga kini masih selalu kita rasakan manfaatnya. Dalam bidang ilmu pengetahuan umum pun, para pemikir Muslim terdahulu sangat berperan. AlKhawarizmi, Bapak matematika, misalnya, dengan gagasan aljabarnya telah sangat mempengaruhi perkembangan ilmu matematika. Tanpa pemikiran alKhawarizmi, tanpa sumbangan angkaangka Arab, maka sistem penulisan dalam matematika merupakan sebuah kesulitan. Sebelum memakai angkaangka Arab, dunia Barat bersandar kepada sistem angka Romawi. Menarik untuk dicermati untuk kaum muslimin bahwa alKhawarizmi menulis karyanya dalam bidang matematika karena didorong oleh motivasi agama untuk menyelesaikan persoalan hukum warisan dan hukum jualbeli. Betapa indahnya islam wahai saudara, apabila kita yakin dan berpegang teguh pada Ilmu yang telah diajarrkan oleh para ulama-ulama kita maka kita akan mendapati betapa dahsyatnya Islam itu, sudah cukuplah Rasulullah, para sahabat, ulama sebagai tempat rujukan kita dalam memahami ilmu, bukan sebaliknya yaitu orang-orang yang membenci Islam, para musuh Islam, dan sangat merugilah kita kalau itu yang kita lakukan.

Dewesternisasi Ilmu Pengetahuan Kontemporer

Salah satu tantangan pemikiran Islam kontemporer yang dihadapi kaum Muslimin saat ini adalah problem ilmu. Sebabnya, peradaban Barat yang mendominasi peradaban dunia saat ini telah menjadikan ilmu sebagai problematis. Selain telah salahmemahami makna ilmu, peradaban tersebut telah menghilangkan maksud dan tujuan ilmu. Sekalipun peradaban Barat modern telah menghasilkan ilmu yang bermanfaat, namun, tidak dapat dinafikan bahwa peradaban tersebut juga telah menghasilkan ilmu yang telah merusak khususnya kehidupan spiritual manusia. Epistemologi Barat bersumber kepada akal dan pancaindera. Konsekwensinya, berbagai aliran pemikiran sekular seperti rasionalisme, empirisme, skeptisisme, relatifisme, ateisme, humanisme, sekularisme, eksistensialisme, materialisme, sosialisme, kapitalisme, liberalisme mewarnai peradaban Barat modern dan kontemporer. Westernisasi ilmu telah menceraikan hubungan harmonis antara manusia dan Tuhan, sekaligus telah melenyapkan Wahyu sebagai sumber ilmu.[3]

Dalam pandangan Syed Muhammad Naquib alAttas, Westernisasi ilmu adalah hasil dari kebingungan dan skeptisisme. Westernisasi ilmu telah mengangkat keraguan dan dugaan ke tahap metodologi ilmiah, menjadikan keraguan sebagai alat epistemologi yang sah dalam keilmuan, menolak Wahyu dan kepercayaan agama dalam ruang lingkup keilmuan dan menjadikan spekulasi filosofis yang terkait dengan kehidupan sekular yang memusatkan manusia sebagai makhluk rasional sebagai basis keilmuan. Akibatnya, ilmu

pengetahuan dan nilainilai etika dan moral, yang diatur oleh rasio manusia, terus menerus berubah. Syed Muhammad Naquib alAttas menyimpulkan ilmu pengetahuan modern yang dibangun di atas visi intelektual dan psikologis budaya dan peradaban Barat dijiwai oleh 5 faktor: (1) akal diandalkan untuk membimbing kehidupan manusia; (2) bersikap dualistik terhadap realitas dan kebenaran; (3) menegaskan aspek eksistensi yang memproyeksikan pandangan hidup sekular; (4) membela doktrin humanisme; (5) menjadikan drama dan tragedi sebagai unsurunsur yang dominant dalam fitrah dan eksistensi kemanusiaan.[4]

Disinilah pentingnya islamisasi ilmu karena teori ilmu yang dikembangkan oleh peradaban barat adalah konsep yang menceraikan antara ilmu dan agama yang menakibatkan timulnya aliran/idiologi yang menentang eksistensi agama, Yahudi kristen, misalnya, agama ini makin terpinggirkan dan tidak bisa lagi dikaitkan dengan ilmu pengetahuan. Bagi kita ummat Islam ini sangat tidak kita inginkan, Islam yang universal bukan saja berbicara tentang ritual ibadah semata, akan tetapi jauh dari itu menyentuh berbagai aspek fisik maupun metafisik, logika maupun intuisi, rasional maupun wahyu. Dan inilah tantangan umat islam pada zaman modern ini yaitu hegemoni ilmu yang bebas nilai yang dikembangkan oleh peradaban barat, ini adalah tugas berat daan tanggung jawab bagi kita yaitu melawan epistimologi ilmu yang tidak sesuai dengan Islam. Dengan keyakinan kita terhadap sang maha Kuasa setiap langkah yang kita niatkan semata karena mencari ridhaNya maka segala usaha dan amal yang kita kontribusikan untuk agama ini akan membuahkan hasil, kalaupun bukan sekarang, cukuplah Allah memberikan catatan kepada kita bahwa kita berjuang untuk agamaNya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s