IMSAK; IMAJINASI SASAK BARU

Oleh: HUSNUL AKIB


Sesekali kita menujamkan perhatian dengan khusuk menengok kembali kesebuah pulau yang sangat kita cintai, Lombok. Pulau terpencil di bagian tengah Indonesia, pulau dimana kita pertama kali menghirup udara, melihat dunia, pulau dimana masa-masa kecil dan remaja kita lewati, tempat sebagian besar memori di otak kita terbentuk. Pulau dimana kakek, nenek, ayah, ibu, kakak, adik dan keluarga yang lain menjalani hidup hari ini.
Akan tetapi setiap kali perhatian itu menyelinap diantara kesibukan-kesibukan hidup sebagai anak rantau di Jakarta ini setiap itu pula hati ini terenyuh, tertunduk menyerah menelan kepedihan untuk mengakui realitas kehidupan pulau itu yang terus berjalan mundur menuju kehancuran. Kemiskinan seolah kenyataan yang wajar, keterbelakangan dalam berbagai bidang kehidupan, kehinaan, dekadensi moral yang terus menggerogoti kaum mudanya, degradasi kultural, kejumudan, dan yang paling menyayat ulu hati adalah pertikaian dan peperangan antar sesama saudara yang tak henti-henti menghiasi berita di media-media, yang seolah-olah menyiratkan Lombok sebagai tempat terpencil yang dihuni oleh manusia-manusia pagan, manusia barbar yang tak punya peradaban.
Lalu dimanakah pangkal permasalahannya? Apa yang salah? Barangkali itulah pertanyaan-pertanyaan yang terasa bosan untuk kita dengar, atau mungkin bukan bosan melainkan kita tak punya solusi dan jawaban untuk itu. Kita mempunyai banyak Tuan Guru dan Kiayi yang seharusnya menjadi penuntun dan tokoh-tokoh panutan. Kita juga memiliki banyak tempat ibadah sebagai tempat refleksi keimanan dan sosial, bahkan Lombok dikenal dengan sebuatan Pulau Seribu Masjid yang menggambarkan penduduknya adalah masyarakat religius dan taat pada aturan-aturan agama. Akan tetapi, sekali lagi dengan perasaan sedih itulah realita yang tak mungkin kita pungkiri.
Akan tetapi semangat untuk merubah semua tak boleh berhenti, fasif menerima kenyataan, pasrah menerima kekalahan. Karena selama ada kemauan dan niat yang tulus selama itu pula akan ada titik terang. “Banyak Jalan Menuju Roma”. Barangkali semangat slogan ini sangat relevan untuk kita aktualisasi dalam konteks ini. Dan ayat revolusioner Tuhan bahwa suatu kaum tidak akan pernah berubah selama kaum itu merubah dirinya sendiri, perlu dicerna dan direfleksi sedalam-dalamnya.
Kita mungkin hidup tak lebih dari beberapa puluh tahun saja, tetapi Lombok akan terus berlanjut bersama waktu dan generasi-generasi baru. Begitulah seterusnya hingga dunia kiamat. Lalu tegakah kita meninggalkan harta yang sejatinya tak layak untuk diwarisi?. Tegakah kita anak-cucu nanti hidup dalam serba kekurangan? Akan tetapi dari mana kita harus memulainya? Toh permasalahan tersebut bagai lingkaran setan yang tidak jelas pangkal dan ujungnya. Dengan tanpa rasa menggurui saya yakin bahwa semua itu harus kita mulai dari diri sendiri, kita harus mulai berbenah diri. Karena setelah itu kita bisa menyatukan persepsi, ide dan gagasan menuju aksi nyata. Semangat kebersamaan dan persaudaraan yang lahir dari refleksi diri inilah barangkali yang menjadi landasan dasar lahirnya Ikatan Mahasiswa Sasak (IMSAK) yang menjadi wadah aspirasi dan gagasan kita sebagai mahasiswa di Jakarta ini.
Kita yakin bahwa yang memberi kekuatan kepada gagasan lahirnya IMSAK tidak sekedar kesatuan yang dibangun atas solidaritas etnis atau ras, keterikatan keagamaan, tetapi juga atas rasa kesamaan nasib sebagai anak rantau dan reaksi terhadap rasa keterbelakangan yang sudah lama terpendam.
Berbicara mengenai IMSAK, saya teringat pada peristiwa-peristiwa pra-kemerdekaan yang menjadi faktor penentu lahirnya gagasan keindonesiaan dan kemerdekaan kita sebagai sebuah bangsa. Secara spesifik, saya teringat pada dua komunitas. Pertama, Perhimpunan Hindia atau Indische Vereeniging (IV). IV lahir pada Oktober/November 1908 didorong oleh pensiunan pejabat Hindia J.H. Abendanon. IV sendiri lahir sebagai ungkapan rasa solidaritas yang sedang tumbuh dari mahasiswa Hindia yang ada di Belanda-yang pada tahun 1909 diperkirakan jumlahnya hanya dua puluh tiga orang.
Kedua, Pada November 1917, Perkumpulan Mahasiswa Indonesia atau Indonesich Verbon van Studerenden (IVS) juga didirikan di Leiden oleh sekelompok mahasiswa Indologi Indonesia dan Belanda yang ingin berkarir di Hindia. Komunitas baru tersebut menyatukan semua organisasi yang punya jalur karir serupa, tanpa memandang etnis atau asal usul. Dengan kata lain, IVS juga lahir berdasar landasan yang sama dengan IV yakni sebagai rasa solidaritas antar sesama dan senasib dan cita-cita mulia untuk mewujudkan kemerdekaan rakyat Indonesia. Seperti yang diungkapkan Soewardi-salah satu anggota IVS- bahwa “anggota-anggota IVS semuanya kelak akan bekerjasama membangun Indonesia masa depan, yang saat ini masih menjadi jajahan Belanda”
Kedua organisasi kemahasiswaan ini menjadi pelopor lahirnya konsep, ide dan gagasan tentang sebuah bangsa yang merdeka dan berakar kuat dalam pikiran masyarakat Nusantara pada waktu itu. Mereka juga menjadi peletak lahirnya identitas kebangsaan kita, memberikan rasa kepercayaan diri masyarakat sebagai bangsa yang memiliki kemampuan untuk mengurus diri dan semua kekayaan negaranya tanpa campur tangan siapapun, apalagi oleh penjajah. Bahkan disinilah istilah Indonesia sebagai nama sebuah negara pun lahir dan berkembang baik secara geografis, politis, dan budaya. Lalu apa kaitannya dengan IMSAK?
Menuju Sasak Baru
IMSAK sendiri berdiri di Ciputat pada 5 April 2001 dipelopori oleh mahasiswa Lombok yang kuliah di UIN Jakarta. IMSAK juga lahir sebagai ungkapan rasa solidaritas dan upaya untuk mengikis rasa Feodalisme, egosentrisme dan individualisme yang merupakan masalah utama yang menggurita dalam diri anak-anak Lombok. Itulah visi etis yang coba diperjuangkan melalui komunitas ini sehingga terwujud rasa egaliterianisme antar sesama yang nantinya berpengaruh dan bermanfaat dalam mewujudkan perdamaian dan persaudaraan di daerah.
Di samping itu, otonomi daerah yang diharapkan mampu mengangkat harkat dan martabat masyarakat belum menunjukkan dampak yang signifikan dalam berbagai dimensi. Otonomi ini tidak akan memberikan hasil yang semetinya apabila tidak didukung oleh sumber daya manusia yang bermutu sebagai subjek pelaksanaa undang-undang tersebut. Inilah yang menjadi keyakinan putra-putri daerah yang ada di Jakarta ini untuk mendirikan IMSAK sebagai wadah pembelajaran, kaderisasi mahasiswa-mahasiswa Lombok yang nantinya akan kembali dan mengabdi di daerah.
Terlihat kesamaan visi propetik yang diemban oleh IV dan IVS dengan IMSAK meski dalam lingkup dan konteks yang berbeda. IV dan IVS berusah meningkatkan harkat dan martabat masyarakat Nusantara dengan mewujudkan kemerdekaan, sedangkan IMSAK mencoba mengemban tanggung jawab demi memajukan daerah yang kondisinya bisa kita ibaratkan sebagai Indonesia pra-kemerdekaan.
Oleh karena itu saya yakin IMSAK akan mampu menjadi IV dan IVSnya Lombok, akan mampu menjadi pemimpin dan sosok garda depan dalam mewujudkan masa depan yang lebih baik. IMSAK harus tetap eksis dan tetap hidup meski berbagai rintangan dan cobaan yang menghadang. Dia harus berlari meski tak secepat waktu. Dia harus tetap berimajinasi, bermimpi meski kadang tak seindah tangguran Gunung Rinjani, dia harus tetap menggambar dan mewarnai meski tak seindah warna-warni pelangi di atas hamparan padi pak tani. Dia harus tetap memberikan nilai meski tak sebijak petuah-petuah para nabi, filosof, dan sufi. Dia harus tetap berpuisi meski tak seindah bait-bait syair para penyair. Dia harus tetap berjuang meski tak seheroik para pahlawan kemerdekaan. Dia harus tetap lantang berbicara dan mengkritisi meski tak selantang Soe Hok Gie. Dia harus tetap berteriak meski tak segemuruh para demonstran 1998. Dia harus tetap hidup meski para pendirinya sudah dipanggil oleh Sang Maha Hidup.
Sebelum saya mengakhiri tulisan yang sangat sederhana ini. Izinkan saya untuk berdoa buat IMSAK, Lombok, dan buat kita semua. Ya, Tuhan wujudkanlah cita-cita mulia yang telah kami rajut, anugrahkan kemudahan bagi terwujudnya mimpi kami itu, bukakan hati kami untuk selalu merefleksi, dan lindungilah kami dan keluarga kami yang selalu merindu dan merana menunggu kepulangan kami. Amin ya rabb a

One Response

  1. Aamiin, tulisa yang luar biasa semeton. Semangat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s