“Nalar Kritis Imsak”

Oleh: Lestary

__________________________

___________________________________________

ISLAM, AKAL, FIKIR, ILMU DAN HIKMAH

Konsep Dan Sistem Yang Melahirkan Masyarakat Humanis-Religius

Masyarakat yang cerdas dan berwawasan luas akan melahirkan  stabilitas sosial dan masyarakat yang  harmonis. Dan masyarakat yang cerdas dan berwawasan luas ini akan bisa terwujud apabila paradigma pemahaman agamanya lebih bercorak  inklusif-rasional. Islam dalam masalah ini memiliki beberapa ajaran yang bisa dijadikan sebagai sarana, seperti ajaran tentang ilmu dan hikma. Ilmu lahir dari proses aktualisasi akal dan daya fikir manusia setelah indra berintraksi dengan realitas empirik di sekitarnya. Dengan ilmu inilah kemudian dilakukan  proses kontemplasi yang mendalam, sehingga melahirkan hikmah yang bersifat intuitif.  Dari ilmu dan hikmah inilah lahir  nilai religiusitas yang agung, yakni religiusitas yang humanis. Dan religiusitas-humanis inilah yang menjadi fondasi bagi keteraturan dan harmoni dalam kehidupan sosial kemasyarakatan

_____________________________________________________________________

Agama dalam pandangan Whitehead (filsuf Amerika) adalah sistem kebenaran umum yang memiliki fungsi untuk mentransformasikan karakter manusia jika agama benar-benar dipegang dan difahami secara sungguh-sungguh. Sementara itu Ali Syari’ati (intelktual Islam Iran) berpesan kepada kita semua, bahwa bentuk dan rupa suatu agama dalam tataran sosial bergantung pada ummatnya. Pandangan keagamaan dua tokoh ini memberikan pesan kepada kita semua untuk mencoba merenungkan dan menelaah kembali paradigma keberagamaan yang selama ini kita pegang teguh. Agama secara normatif adalah benar dan agama dalam misi dan fungsinya bagi kemanusiaan adalah untuk membangun dan membentuk manusia dari segala bentuk keterpurukan hidup. Namun karena paradigma pemahaman yang dangkal dan eksklusif, maka kebenaran dan fungsi humanis agama menjadi hilang, bahkan karena paradigma yang digunakan pula, agama sering dimanipulasi sebagai jalan pengukuhan status quo, legitimasi kpentingan bahkan agama sering dijadikan alat penindasan.

Islam pada dasarnya adalah agama yang berfungsi untuk membentuk manusia seutuhnya, manusia yang berparadigma holistik, manusia yang memiliki daya material-spiritual, berparadigma empiris-metafisis, humanis-religius, cerdas, berwawasan luas, indevenden, berperadaban. Namun karena paradigma pemahaman kita yang kurang memadai tentang Islam, yang cendrung irrasional, tradisional dan eksklusif, maka Islam terkesan menjadi agama yang hanya berbicara pada tataran aqidah, moral, hukum, pahala dan dosa, neraka dan surga.

Dalam hal ini terdapat pandangan Islam yang cukup menarik untuk kita cermati, yakni “tidak ad agama bagi yang tidak berakal”, bahakan dalam konsep fiqh dikatakan bahwa orang yang dibebani untuk melaksanakan ajaran Islam salah satunya adalah orang yang berakal. Dalam al-Qur’an juga dijelaskan bahwa, tidaklah sama orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu. Itulah sebabnya Islam mewajibkan bagi muslim laki-laki maupun perempuan untuk menuntut ilmu. Rasulullah juga menekankan bahwa menuntut ilmu dimulai dari rahim ibu sampai ke liang lahar. Belum lagi konsep-konsep Islam yang lain dalam masalah ini, seperti konsep aql, fikr, ilmu dan hikmmah (inilah yang akan kita bahas dalam kaitannya dengan terbentuknya masyarakat yang cerdas dan stabilitas sosial).

Islam dalam menciptakan tatanan sosial yang harmonis memiliki perangkat-perangkat yang bersifat humanis-religius, seperti konsep ma’ruf dan mungkar, mustakbirin dan mustad’afin. Konsep ma’ruf adalah nilai religiusitas penuh keindahan, kebenaran dan kebajikan. Ma’rup merupakan wujud dari diri yang darinya mengalir cahaya untuk menerangi kegelapan kemanusiaan, menebar wangi harum, membawa kebaikan, toleran, egalitarian, atruistik. Sehingga ma’ruf merupakan kebenaran dan kebaikan umum dalam masyarakat yang difungsikan sebagai perangkat moral untuk menjaga stabilitas dan harmoni. Sedangkan mungkar adalah penyakit diri yang secara umum dibenci oleh masyarakat, sebab kemungkaran cenderung menebar penyakit sosial dalam bentuk perusakan tatanan nilai-nilai yang sudah ada, penghasutan sosial, kekikiran dan ketamakan.

Mustakbirin (sombong dan angkuh, individual dan fiodal) juga merupakan penyakit sosial yang dapat meghancurkan stabilitas sosial. Orang yang sombong dan angkuh cenderung meremehkan orang lain, menganggap diri paling benar dan terhormat, sementara yang lain adalah rendah. Kemudian mustad’afin adalah kepedulian sosial pada orang-orang yang lemah. Ini merupakan konsep Islam yang memberikan peluang bagi terpenuhinya sikap toleran dan kepedulian (altruisme) yang balasannya adalah kebaikan dan kenikmatan surga.

Bagaimana penyakit mungkar dan mustagfirin ini hilang sehingga stabilitas sosial tersebut bisa terwujud? Dan bagaimana nilai-nilai Islam tersebut mampu berperan sebagai penggerak dan simbol dari stabilitas sosial tersebut? Inilah pertanyaan yang mesti dijawab, bahkan merupakan tanggung jawab yang harus diaplikasikan bagi setiap muslim. Sebagaimana di ketahui, Islam lahir untuk sebuah pengangkatan derajat kemanusiaan (emansipatoris), pembebasan bagi ketertindasan manusia, pembebasan dari kejahilan menuju kecerdasan dan jalan keselamatan bagi manusia. Islam merupakan sumber petunjuk, sumber hikmah yang darinya lahir sistem normatif dalam bentuk tatat-aturan hidup, baik secara vertikal maupun horizontal.

Kembali kedua pertanyaan tersebut, bahwa stabilitas sosial lahir dari individu-individu yang bertanggungjawab dan berdaya humanis-religius (sebab masyarakat dalam perspeektif sosiologis terdiri dari individu-individu). Bagaimana individu yang demikian bisa terwujud? Maka jawabannya adalah individu yang berpengatahuan dan berkebajikan. Bagaiamana pengetahuan dan kebajikan ini didapat? Maka jawabannya adalah dengan menengok kembali ke konsep aql dan fikr, sehingga dari dua hal ini lahir apa yang disebut ilm dan hikmah. Ilmu pengetahuan (Ilm) dan hikmah lahir dari instrumentalitas aql (akl) dan fikr (pemikiran yang rasional). Indra yang merasakan realitas empiris merupakan awal dari proses beradaptasinya diri dengan realitas di luar diri, kemudian aql memproses data-data indrawi tersebut dan kemudian ditata melalui jalan pemikiran yang logis (fikr), sehingga lahirlah apa yang disebut ilmu, dan dengan ilmu maka dilakukan penghayatan yang lebih mendalam yang bersifat intuitif sehingga lahirlah apa yang disebut kebijaksanaan (hikmah). Hikmah kemudian melahirkan sikap atau nilai dari religiusitas yang agung. Apa religiusitas yang agung itu? Adalah nilai kemanusian yang memadukan antara dimensi empiris-duniawi dengan dimensi teologis-spiritualis atau humanis-religius. Manusia yang didunia tetap melakukan pembenahan, pencerahan, adaptif-dinamis, kreatif-edukatif, professional-rasional.

Dengan demikian stabilitas social akan lahir jika individu-individu masyarakat mamiliki daya intlektualitas yang ditopang dengan sikap etis, humanis dan religius, dan salah satu jalannya adalah dengan kembali menengok paradigma keberislaman kita serta meneguhkan kembali kesungguhan atau komitmen kita dalam beragama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s