Dakwah & Fenomena Gerakan Keagamaan di Indonesia

*Fenomena munculnya berbagai aliran sesat di Indonesia beberapa bulan terakhir yang cendrung menodai dan menghina agama Islam seperti al-Qiyadah al-Islamiah ditengarai sebagai akibat dari kegagalan dakwah. Para da’i dianggap tidak mampu mentransformasikan Islam secara kaffah (konperhensif) kepada ummat, dakwah selama ini sering bersifat eksklusif, menghakimi dan memprovokasi. Aktifitas dakwah hanya menampilkan Islam dari aspek langit atau ‘ubudiyah (habluminallah) bukan aspek bumi dimana kehidupan sosial (habluminannas) bergulir, sehingga wajar berbagai permasalahan sosial yang dialami ummat tidak tersentuh. Fakta ini menyebabkan ummat mencari solusi lain atas permasalahan sosial yang mereka alami dengan cara “selingkuh” yaitu menganut sekte atau aliran baru dalam sebuah agama yang menawarkan solusi instan, namun cendrung “menyesatkan”.

Agenda dakwah ke depan harus mampu merubah paradigma yang selama ini salah dan telah mengkristal di kalangan ummat. Da’i diharapkan tidak berperan sebagai juru dakwah yang hanya menyampaikan Islam bil lisan di atas mimbar saja, tapi lebih dari itu, juru dakwah dituntut menjadi –meminjam istilah Clifford Geertz– cultural broker (makelar budaya), bahkan menjadi intermediary forces (kekuatan perantara) bagi permasalahan sosial ummat dalam istilah Hiroko Horikoshi. Oleh sebab itu tulisan ini berusaha mengenalkan berbagai macam metode dakwah alternatif sebagai solusi atas permasalahan tersebut. Diantaranya adalah dakwah transformatif dan dakwah struktural. Untuk lebih konperhensifnya pemamahan tentang berbagai hal yang terkait dengan aliran sesat, akan didiskripsikan juga tentang akar historis munculnya aliran tersebut dari aspek sosiologi agama dan faktor eksternal yang menjadi pupuk bagi suburnya aliran sesat di Indonesia; termasuk diantaranya keterlibatan intelejen asing.

Beberapa bulan terakhir ini, bangsa kita dikejutkan dengan munculnya gerakan keagamaan yang mengusung berbagai macam ajaran, ritual keagamaan yang aneh bahkan cendrung mengancam serta menodai kesucian aqidah, ibadah, ritual, dan pendirian mayoritas ummat yang sudah mapan. Diantara fenomena gerakan keagamaan tersebut adalah maraknya aliran sesat yang tumbuh seperti jamur di musim hujan dan laris dianut oleh masyarakat layaknya kacang goreng di pasar. Sejak tahun 1989, setidaknya sembilan aliran keagamaan diberikan label haram oleh MUI (Majelis Ulama Indonesia), diantara sembilan aliran yang dianggap menyesatkan itu antara lain: Islam Jama’ah, Ahmadiyah, Ingkar Sunnah, Qur’an Suci, Sholat Dua Bahasa, Lia Eden dan yang terbaru al-Qiyadah al-Islamiyah.

Aliran al-Qiyadah yang sudah difatwa haram oleh MUI cukup membuat ummat muslim diberbagai daerah menjadi marah dan bertindak anarkis terhadap pengikut aliran ini. Hal ini dipicu oleh klaim pendirinya, Ahmad Mushaddeq yang mengaku mendapat wahyu dan mendeklarasikan dirinya sebagai nabi baru setelah nabi Muhammad saw. Klaim ini berimplikasi munculnya syahadat (kesaksian) baru pengikut al-Qiyadah yang berbunyi: asyhadu an lla ilaha illallah, wa asyhadu anna al-masiih al-mau’ud rasulullah (aku bersaksi bahwa tiada ilah selain Allah dan anda (al-masih al-mau’ud alias Ahmad Mushaddeq) adalah rasul Allah. Doktrin al-Qiyadah lebih jauh lagi menyimpang dari Islam dengan tidak wajibnya mengerjakan shalat, zakat, puasa dan haji bagi pengikut al-Qiyadah. Al-Qiyadah juga sering dihubungkan dengan hilangnya para remaja, pelajar dan mahasiswa yang mengikuti pengajian dan dibaiat untuk menjadi pengikutnya.

Ajaran Mushaddeq tentang kerasulannya sudah jelas merupakan bentuk penyimpangan, penyesatan dan penistaan terhadap agama Islam, karena Islam hanya mengakui Nabi Muhammad saw sebagai nabi dan rasul terakhir, tidak ada nabi dan rasul setelah Muhammad saw.
Allah swt berfirman:“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki diantara kalian, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup para nabi, Allah maha mengetahui segala sesuatu”
(QS.Al-Ahzab/33 ayat 40).


Tulisan selengkapnya bisa didownload di sini.. KLIK

*Penulis:
ABDUL QUDDUS, MA
(Senior IMSAK JAKARTA dan Dosen DPK IAIN Mataram, Mahasiswa S.3 UIN Jakarta)
Kontak pribadi: email: kudus_salom@yahoo.com

2 Responses

  1. brembe kabarm semeton batur lombok lek jakarta tolong ite juluk maeh pineng gati pikiran skripsi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s