Analogi Etika Protestan di Asia

ANALOGI ETIKA PROTESTAN DI ASIA;

Sebuah Refleksi Paradoks Etika Kapitalisme Protestan di Asia

Oleh: Lestari

Pendekatana agama secara sosiologis berarti concern pada strujtur sosial, konstruksi pengalaman manusia dan kebudayaan, termasuk di dalmnya adalah agama. Agam dolihatsebagi salah satu bentuk onstuksi sosial. Segala bentuk praktek-prakek keagamaan baik dogma tentang ritus-ritusnyadikaji gyn aumtuk membuktikan keterkaitan hubungannya dnegan institusi, sruktur, ideologi,kelas, dan perbedaan kelompo yang dengannya masyarakat terbentuk

Dalam konteks sosial, agama memiliki fungsi yang sangat signifikan sebagai mana yang di ilustrasikan Emile Durkheim dalam karyanya The Elementary form of the Religious Life, Durekheim melihat praktek-praketk religious suku Aborogin di Austri dengan mengidentfikasi prinsip totemik dalam relasi yang dialektis antara keyakinan dan praktek religius dengan watak kesukusan. Dari sini Durkheim berangkat pada anggapan dan pandangan bahwa agama memainkan fungsi sebagai sumber ketera turan sosial dan moral, mengikat tiap anggota masyarakat ke dalam suatu proyek sosial bersama, sekumpulan nilai dan tujua sosial bersama

Dalam konteks sekarang, pertanyaan semacam sejauh mana agama mempengaruhi perilaku masyarakat?, sejauh mana peran agama dalam membentuk tatanan sosial yang harmonis?, bagaimana agama bisa membangkitkan etos sehingga masyaraat mampu mengubah dirinya dari lemah menjadi kuat, miskin menjadi kaya?, bodoh menjadi pintar, primitif menjadi berbudaya?, bagaimana agama menjalin hubungan dengan lembaga-lembaga sosial yang bersipat propan, sementara agama dipandang sebagai sesuatu yang memiliki tingkat kesakralan yang tak terbantahkan?, dan masih banyak pertanyaan lain?. Pertanyaan ini muncul karena kita melihat situasi zaman sejak lahirnya era modern sampai sekarang, yang memiliki peran yang sangat signipikan dalam mendekonstruksi cara pandang dan paradigma hidup suatu masyarkat, yang terkadang nilai-nilai tradisi-primordial, baik yang bersumber dari agama maupun yang bersifat local wisdom, semanya telah dimarjinalkan, dan digantikan dengan nilai-nilai pragmatis dari sains dan tenologi modern. Lebih-lebih masyarkat modern adalah masyarajkat yang rasionalis.

Dalam konteks inilah kita akan melihat sebuah hasil penelitian seorang ekonom dan sosiolog asal Jerman Max Weber, dalam salah satu karyanya The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism yang dalam pandangan para penafsir, bahwa ajaran Kristen Protestan dilihat seabagai yang memiliki korelasi dengan perilaku ekonomi (semangat kapitalsime). Dalam artian bahwa teori motivasional dalam agama Weber (etika protestan) sedikit tida memainkan peran dalam mengubah masyarakat.

B. Realitas Sosial-ekonomi di Asia

Sebelum kita melihat analogi Kristen dia Asia, terlebih dahulu kita deskrifsikan realitas-realitas sosial masyarakat Asia atau negara-negara Asia. Penggamabaran secara umum tentang realiats Asia ini tentu tidak dapat mempresntasikan secara keseluruhan apa yang terjadi di Asia, namun sedikit tidak bisa dijadikan sebagai sebuah acuan untuk melihat dan membawa kita kearah pembahasan mengenai materi yang akan kita diskusikan.

Secara sosial-ekonomi negara-negara di Asia relatif miskin, atau masuk dalam kategiri negara-negara berkembang. Dalam suatu pesan yang dikirimkan oleh pertemuan Gereja-gereja di Asia tahun1980 di Kandy yang dikirim ke masyarakat Asia mengatakan; “Asia secara khusus dihadapkan pada masalah kemiskinan yang amat besar, masalah yang benar-benar menimpa seluruh manusia di dunia. Salah satu gambaran mengenai kemiskinin masyarkat Asia ini dituangkan dalam tiga jilid karya almarhum Gumnar Myrdall, yang berjudul Asian Drama: An Inquiry into the Poverty of Nation, disini terlihat gambaran kenyataan di Asia sebagai sebuah drama; sikap dan lemabaga, kenyataan-kenyataan ekonomi dan kecendrungan kecendrungan demografi, kemiskinan dan perjuangan untuk memecahkan semua itu bertentanagan dengan tujuan-tujuan yang diungkapkan dalam rencana-rencana modernisiasi dan pembangaunan

Selanjutnya pesan komferensi Kandy mengatakan bahwa seba bkemiskinan dan penderitaan masyarakta Asia adalah dibuat dan disebabkan oleh manusia. Kemiskinan adalah hasil dari dosa, dari stuktur-struktur sosial yang menindas, koropsi dan dari sistem internasional yang tidak adil. Dalam artian terdapat pula sebab eksternal yakni kolonialisme dan imperialisme bangsa Barat ke Asia. Dengan demikian bahwa berbicara kemiskinan dan penderitaan masyarakat Asia berarti berbicara tentang keadaan kondisi di mana manasia menemukan dirinya dalam struktur sosial yang menindas, hingga mereka tidak mampu mengekpresikan diri untuk berubah. Nirmalka Fernando menyebutkan ada tiga penyebab kemiskinan dan penderitaan, pertama, ketidak adilan struktural. Kedua, penindasan dari sistem kapitalis. Ketiga, perampokan sistematis oleh negara-negara maju ke negara-negara berkembang

Di samping itu Asia juaga dikenal sebagai Bangsa-bangsa yang religius, sehingga bisa dikatakan bahwa seluruh aktifitas hidup yang dijalani diilhami oleh agama. Termasuk dalam maslah penderitaan dan kemiskinan, semuanya dicari jawaban dan dikembalikan pada agama. Disini kemiskinan dilihat sebagi sebuah ketentuan takdir dan nasib yang diberika Tuhan. Dan semua upaya pengembalian maslah kehidupan itu pandang sebagai jalan untuk mencapai keselamatan. Dalam kaitanya dengan agama-agama di Asia, Pieris melihat ada dua unsur yang saling melengkapi, yakni suatu agama kosmik dan soteriologis metakosmik. Maka di Asia, agama kosmis dipadukan menjadi salah satu dari tiga soteriologi metakosmik, yakni Hindhuisme, Budhime dan Taoisme, ayng menawarka suatu transfenomenal di sebarang sebagai kebaikan tertinggi yang dilakuakan melalui gnosis

C. Tinjauan Umum Kondisi Sosial Masyarakat Modern pada umumnya, khususnya Barat

Sebelum kita melihat benarkah agama mempengaruhi kehidupan masyarakat dalam mengubah hidup, ataukah kondisi zaman yang trus berubah, sehingga masyarakat terus melakukan gerak aktifitas yang dapat menunjang kesejahtraan kehidupannya, sebagaimana yang termuat dalam pertanyaan di atas. Dalam artian lahirnya kondisi sosial yang sifatnya berubah dan berkembang dalam kehidupan masayarakat.

Lebih-lebih di era modern reformasi dalam segala aspek kehidupan sosial terus bergulir dengan pesatnya. Ide-ide pemikiran yang sifatnya reformis dan kostruktif melahirkan sikap yang edukatif dalam masyarakat, sehingga pola pikir masyarakat modern menjadi serba rasionalis. Belum lagi munculnya sains dan teknologi yang telah menjadi tolak ukur kebenaran ilmiah dalam kehidupan masyarakat modern, terutama di Barat. Nilai pragmatis sains dan eknologi telah menjadi worldvew masyrakat, sehingga sesuatu yang dipandang bersipat immaterial dan irasional mulai ditinggalkan, agama juga masuk dalam konteks immaterial dan irrasional. Agama dipandnag sebagi yang demikian oleh sebagian masyarakat, nilai fungsional agama dalam kehidupan masyarakat secara pragmatis-empiris mulai diragukan dan tik meiliki fngsi apa-apa dalam kehidupan, agam sesuatu yang sifatnya subjektif.

Artikel lengkap bisa di download di sini.. KLIK

Lestari

(Aktifis IMSAK dan sekarang masih study Sekolah Pascaserjana Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta


2 Responses

  1. tulisan di edit donk…ini lestari dari lombok tengah yg alumnus MAK /MAN 2 Mataram yee…

  2. it’s a nice site. keep on updating, i love to read much…
    bikebali

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s