John Locke

John Locke; Lahirnya Paham Libralisme Negara*

Oleh : Muh. Samsul Anwar

Siapa yang tidak mencintai kebebasan demi kebebasan itu sendiri, maka ia terlahir sebagai budak” (Alexis de Tocquevilles).

John Locke lahir pada tahun 1632-1704, ia mendapat pendidikan di Oxford dan juga seorang dokter. Pada awalnya dia adalah seorang yang mendukung raja, berubah kemudian ketika ia menjadi sekretaris Lord Ashly yang kemudian menjadi Count of Shaftesbury. Shaftesbury mewakili politik kaum modal pedagang di London

Sebagaimana Hobbes, pendahulunya, John Locke menyandarkan kewajiban politik pada kontrak sosial. Locke memulai filsafat politiknya dengan apa yang disebut dengan keadaan alamiyah asali (State of Nature), yang ia sebut keadaan alamiyah asali adalah komunitas umat manusia alamiyah yang besar. Maksudnya adalah orang-orang hidup bersama di bawah bimbingan akal tetapi tanpa otoritas politik. Setiap orang memiliki kebebasan dan kemerdekaan. Ini artinya bahwa setiap orang bebas dari setiap kekuasaan prioritas di atas bumi, dan tidak berada di bawah kehendak atau otoritas legislatif.

Orang yang hidup dalam kebebasan adalah mereka yang dapat bertindak tanpa terhalangi oleh hambatan-hambatan yang dibuat orang lain untuk menghalanginya. Namun, kebebasan yang seperti ini hanya dapat terwakili secara moral dan bersifat logis jika kebebasan itu sendiri sebagai prinsip tidak terlalu ditonjolkan. Karena itu kebebasan bertindak bagi seorang liberal berakhir di kala ia membatasi kebebasan orang lain dengan cara kekerasan dan paksaan. Jadi, diperlukan suatu definisi yang tepat tentang kebebasan yang mutlak bagi setiap individu itu. Di sini pertanyaan tentang batas-batas kebebasan berkaitan dengan pertanyaan tentang hak atas milik.

Kebebasan hanya legitim di saat orang boleh memiliki sesuatu sesuai dengan haknya. Karenanya muncul aturan umum untuk tidak memiliki orang lain, kecuali hak pemilikan itu diserahkan secara sukarela. Kebebasan itu, demikian dinyatakan filsuf Inggris dan bapak moyangnya liberalisme John Locke dalam bukunya “Two Treatises on Government” tahun 1690, berangkat dari kepemilikan. Ini sama sekali tidak berkaitan dengan politik kepentingan yang mengacu pada milik pribadi (“possesive individualism”) seperti yang dimaksud beberapa kritikus. Pernyataan Locke itu lebih menekankan pada definisi bidang kepribadian. Kepemilikan yang dimaksud Locke pertama-tama adalah kepemilikan manusia atas dirinya sendiri. Dalam bahasa Inggris-Amerika modern ada istilah bagus untuk itu, yakni “self-ownership”.

Kebebasan liberal yang dicita-citakan belum mampu direalisasikan oleh manusia. Meskipun ada kemajuan, tetap saja masih terdapat aturan-aturan paksaan (umumnya oleh pemerintah) yang membunuh, melukai, mengurung atau mengambil hak bicara manusia.

Bukankah ada begitu banyak dalih untuk membatasi kebebasan itu? Bukankah banyak orang merasa terancam oleh adanya perbedaan dengan orang lain sehingga mereka hendak membatasi perbedaan itu dengan kekerasan? Bukankah banyak orang berpendapat bahwa orang ketiga yang kurang berperanlah yang perlu dipaksa dengan bantuan negara untuk membereskan kesemwarutan sosial yang benar-benar ada atau yang nampak ada tersebut? Bukankah banyak orang menganggap sah melindungi sesama dari pengrusakan diri (misalnya melalui konsumsi narkoba)? Bukankah banyak orang ingin memaksa orang lain demi kebahagiaan orang tersebut?

“ Tidak ada yang dapat memaksa saya menjadi bahagia dengan caranya (seperti ia membayangkan kebahagiaan itu bagi orang lain). Setiap orang boleh mencari kebahagiaannya dengan jalannya sendiri. Jalan yang akan membantunya hanya jika ia tidak menginjak kebebasan orang lain (artinya hak orang lain). Yaitu kebebasan untuk mendapatkan tujuan yang sama, kebebasan yang dapat tumbuh bersama dengan kebebasan setiap orang berdasarkan suatu hukum umum.”

Keadaan alamiyah ini (state of nature) yang diartikan sebagai manusia bebas menentukan dirinya sendiri dan menggunakan hak miliknya dengan tidak bergantung pada orang lain. Tetapi akan berubah situasinya ketika uang sudah diciptakan. Karena sebeluam ada uang seseorang memenuhi kebutuhannya secukupnya. Menurut Locke, ada hokum alam bahwa orang tidak boleh mengambil lebih banyak produk alam dan tanah daripada apa yang diperlukannya dari kebutuhan sendiri. Kemudian berubah dengan mememihi kebutuhannya sebanyak-banyaknya karena mudah untuk disimpan dengan berbentuk uang.


Tulisan selengkapnya bisa didownload di sini.. KLIK
*Penulis

Muh. Samsul Anwar

(Aktifis IMSAK dan sekarang masih study Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Jurusan Pemikiran Politik Islam, semeser VI)

One Response

  1. Subhanalloh,, keren

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s