<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title></title>
	<atom:link href="http://imsakjakarta.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://imsakjakarta.wordpress.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Mon, 26 Dec 2011 13:51:14 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='imsakjakarta.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title></title>
		<link>http://imsakjakarta.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://imsakjakarta.wordpress.com/osd.xml" title="" />
	<atom:link rel='hub' href='http://imsakjakarta.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>SEMBALUN DAN PERTARUNGAN TRADISI-MODERN</title>
		<link>http://imsakjakarta.wordpress.com/2011/12/26/sembalun-dan-pertarungan-tradisi-modern/</link>
		<comments>http://imsakjakarta.wordpress.com/2011/12/26/sembalun-dan-pertarungan-tradisi-modern/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Dec 2011 13:13:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>imsakjakarta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pariwisata]]></category>
		<category><![CDATA[pulau lombok]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://imsakjakarta.wordpress.com/?p=489</guid>
		<description><![CDATA[SEMBALUN DAN PERTARUNGAN TRADISI-MODERN Oleh: Paox Iben Mudhaffar Syahdan, di sebuah lembah gelap gulita di Kaki gunung Rinjani hidup tujuh pasang suami istri. Kehidupan mereka masih sangat primitive. Lalu datang dua orang pendekar pengembara bernama Raden Harya Pati dan Harya Mangujaya.  Konon keduanya adalah utusan kerajaan Majapahit.  Dalam cerita yang tertulis di Lontar orang Sembah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=imsakjakarta.wordpress.com&amp;blog=3684320&amp;post=489&amp;subd=imsakjakarta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;" align="center"><strong>SEMBALUN DAN PERTARUNGAN TRADISI-MODERN</strong></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><strong>Oleh: Paox Iben Mudhaffar</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Syahdan, di sebuah lembah gelap gulita di Kaki gunung Rinjani hidup tujuh pasang suami istri. Kehidupan mereka masih sangat primitive. Lalu datang dua orang pendekar pengembara bernama <strong>Raden Harya Pati</strong> dan <strong>Harya Mangujaya</strong>.  Konon keduanya adalah utusan kerajaan Majapahit.  Dalam cerita yang tertulis di Lontar orang Sembah Ulun disebutkan bahwa keduanya adalah orang-orang sakti mandraguna, sebab hanya dengan menancapkan tombak maka dalam waktu semalam mampu merubah hamparan rawa yang luas menjadi tanah pertanian yang subur. Cerita itu memang terkesan tidak masuk akal. Tetapi dari nalar cerita itu kita jadi tahu bahwa kedua orang itulah yang mengajarkan kepada masyarakat Sembalun yang tadinya hidup dalam budaya berburu dan meramu sehingga mengenal budaya pertanian.  Kedua orang itu juga mengajarkan bagaimana menata masyarakat agar senantiasa harmoni dengan alam. Mereka juga mengajarkan tentang ketuhanan. Karena itu kampung tertinggi di Pulau Lombok itu dinamakan <strong>SEMBAH ULUN</strong>. <em>Menyembah Diri (Tuhan)</em>. Setelah tugas itu selesai, konon keduanya Moksa.</p>
<p><span id="more-489"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Untuk mengenang keduanya, Masyarakat Sembalun membangun sebuah petilasan atau Maqom (Bukan Makam/kuburan) yang dijadikan sebagai sentra ritus. Setiap empat tahun sekali dalam hitungan Kalender Sembalun, diadakan ritus <strong>Mangayu-ayu</strong> atau merawat Alam agar senantiasa lestari. 13 Pemuda terbaik&#8211;yang sudah digembleng secara fisik dan spiritual&#8211;ditugaskan oleh pemangku adat untuk mengumpulkan air dari 13 Mata Air yang tersebar di Pulau Lombok. Selama berhari-hari mereka berjalan memasuki hutan belantara, bertemu dengan binatang buas dan marabahaya lainnya untuk mendapatkan air suci; air yang mengalir langsung dari Sumber Mata air. Air itulah yang digunakan sebagai kelengkapan utama dalam upacara Mengayu-ayu, Mangayu Hayuning Bawana (Menjaga kelestarian dunia).Menurut H. Purnipa, tetua adat Sembalun, dalam ajaran Islam Air adalah hal yang utama. Sebab kita diajarkan untuk menghormati air sebagai lambang pembentuk kehidupan. “Air itu suci, karena itu dalam Islam pertama-tama kita diajarkan untuk ber-<em>Taharrah</em>,” Ungkapnya.  Hunting mat air itu bisa juga dimaknai sebagai upaya untuk mengetahui kondisi hutan dan Mata air yang ada. “Dengan cara seperti itu kita bisa tahu mana hutan yang rusak dan harus segera diperbaiki  sehingga keberadaan Mata air bisa tetap terjaga dan lestari,” imbuhnya.</p>
<p style="text-align:justify;">            Dalam Ritus mangayu-ayu itu juga digelar berbagai ritual dan atraksi budaya. Ada perang Perang Bala Perang melawan Jin, Setan dan Penyakit. Sebab konon pernah terjadi malapetaka,  yang disimbolkan dengan membakar semacam kemenyan yang diarak keliling kampong  dengan mantra-mantra tertentu. Sebab konon pernah terjadi malapetaka, ratusan orang tiba-tiba meninggal terkena wabah yang tidak diketahui juntrungannya. Dan setelah diadakan ritus itu (Bebija Tawar/Penyembuhan) maka Wabah itupun berangsur menghilang.  Dalam dunia modern kita tahu ini seperti tekhnik pengasapan (Fogging) untuk sterilisasi penyakit menular dan hama tanaman. Lalu dilanjutkan dengan perang Topat; melempar topat. Itu mengandung arti supaya masyarakat mau saling berbagi dan memaafkan.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam Ritus Mangayu-ayu itu biasanya juga digelar pasukan/ Laskar Sembah Ulun yang bersenjatakan lengkap (Tombak, parang dan perisai) dengan membawakan tarian Tandang Mendet atau tarian keprajuritan. Selain gerakan-gerakan dan formasi yang penuh makna filosofis, gelar pasukan ini juga memperlihatkan kesiapan mereka untuk menjaga gawah gunung (Hutan dan gunung berikutisinya) dari berbagai gangguan tangan-tangan jahil perusak alam.</p>
<p style="text-align:justify;" align="center"><strong>***</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Desa Sembalun (sekarang telah dimekarkan menjadi kecamatan) merupakan sebuah perkampungan yang cukup makmur. Mungkin karena letaknya yang berada di lembah (bekas kawah purba) Gunung Rinjani, sehingga daerah ini cukup subur dan dikenal sebagai sentra pertanian terutama sebagai penghasil bawang putih, sayur-sayuran dan kentang. Sejak dulu Masyarakat Sembalun cukup bergiat dalam soal kesenian. Selain ritus adat mengayu-ayu, pada tahun 1968 mereka sudah membentuk group keroncong bernama SINAR RINJANI.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Saya menjual 2 ekor sapi untuk mebeli viol (biola) dan kontra bass. Teman teman juga melakukan hal yang sama sehingga kita bisa punya acordion dll,&#8221; katanya. sayapun hampir menitikkan air mata bagaimana melihat kesungguhan mereka, membayangkan Sembalun waktu itu yang masih dikelilingi hutan tetapi memiliki kelompok musik yang cukup modern.</p>
<p style="text-align:justify;">            &#8220;Setelah itu kita membuat kelompok Teater RAkyat yang membawakan kisah-kisah seperti Cilinaya dll. Banyak sekali undangan mentas, sampai ke Lombok utara (Pemenang) dan Lombok Barat. dari situ kita bisa menabung bahkan menymbang pembangunan masjid,&#8221; lanjutnya.&#8221;Waktu itu kita mesti berjalan kaki 30 km samapai aikmel atau Bayan dulu sebelum naik kendaraan. Alat-alat musik itu dipanggul ramai-ramai.&#8221; kenangnya.&#8221;Saat itu kita benar-benar menjadi idola mas,&#8221;Kata para tetua. &#8220;Banyak yang tertawa terpingkal-pingkal atau menangis tersedu ketika kita membawakan cerita-cerita itu. &#8221; kenang yang lain. beberapa tetua bahkan menirukan beberapa dialog, tembang dan ekspresi dalam lakon Cilinaya.</p>
<p style="text-align:justify;">            Puncak kejayaan pertanian di Sembalun terjadi sekitar pertengahan tahun 80-an. Karena ketenaran bawang putihnya  itu pada tahun 1985 Presiden Suharto saat itu melakukan panen perdana Bawang Putih di Sembalun. Tetapi Sejak kedatangan Suharto itu, keadaan pertanian di Sembalun justru semakin merosot. Selain harga bawang putih yang terus anjlok,  tanah-tanah yang cukup strategis disekitar Sembalunpun habis untuk diserahkan kepada keluarga Cendana dan dibagi-bagi oleh pejabat waktu itu. Sehingga banyak sekali tanah-tanah di sembalun yang dibiarjkan terbengkalai dan sebagian tidak diketahui siapa pemiliknya. Sudah jatuh tertimpa tangga pula, sementara lahan pertanian yang subur itu juga semakin berkurang tingkat kesuburannya. Mungkin karena terlalu bersemangat untuk memajukan pertanian, para petani menggunakan zat-zat kimia yang berlebihan serta bibit-bibit impor yang mengandung bakteri serta penyakit menular. Akibat kemunduran pertanian itu, banyak warga sembalun yang memilih bekerja ke luar daerah hingga menjadi TKI/TKW ke luar negeri. Kondisi ini tentunya patut disesalkan.</p>
<p style="text-align:justify;">Berada dalam ketinggian anatara 1050-1300meter DPL menempatkan Sembalun sebagai perkampungan tertinggi di Pulau Lombok. Sebagai desa yang menjadi pintu pendakian Taman Nasional Gunung Rinjani, akses jalan ke Sembalun cukup bagus sehingga Sembalun selalu ramai dikuncungi wisatawan baik domestic maupun manca Negara.  Sayangnya, hal-hal yang berbau tradisional—seperti bangunan atau arsitektur local mulai menghilang digantikan oleh rumah-rumah beton .  Begitu juga dengan perilaku dan sikap masyarakatnya yang mulai tidak ramah lingkungan.  Kondisi ini tentu patut disesalkan, disatu sisi ada warga yang berpegang teguh pada ranah tradisi dan kearifannya, disisi lain lebih banyak warga yang mengabaikan tradisi bahkan menganut faham keragamaan garis keras yang menganggap ritus-ritus budaya itu sebagai sesuatu yang khurafat syirik dsb. Sementara kalangan menengah terdidik yang sempat sekolah hingga ke luar daerah ketika masa kejayaan bawang putih, menganggap ritus-ritus dan gaya hidup tradisional itu sebagai sesuatu yang udik dan kampungan.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagai perkampungan yang paling dekat dengan Gunung Rinjani keberadaan desa-desa di wilayah Sembalun sangat penting untuk menjaga kelestarian alam, terutama yang menyangkut keberadaan hutan disekitar gunung Rinjani. Sebab selain merupakan Gunung berapi aktif tertinggi ketiga di Indonesia, hamper seluruh pulau Lombok sangat bergantung kepada keberadaan Rinjani. Kita misalnya tidak bisa membayangkan bagaimana jika hutan-hutan itu rusak, tentu mata air diseluruh pulau Lombok akan menyusut. Iklim juga akan semakin memanas, lahan-lahan pertanian akan mengalami kekeringan, konflik sosialpun akan semakin kerap terjadi.</p>
<p style="text-align:justify;">Oleh karena itu sudah semestinya, penataan kawasan Sembalun dan sekitarnya harus lebih mengacu pada kearifan local yang ada. Sebab hanya orang gunung yang mengerti gunung. Sementara untuk penataan Sembalun sebagai desa wisata juga harus diimbangi dengan recoveri kehidupan tradisi dan peningkatan kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian alam (eco-wisata). Sebab banyak orang-orang “kota’ yang mengaku pecinta alam justru menjadi perusak alam. Para pendaki Rinjani itu misalnya, mereka  tidak hanya membuang sampah sembarangan, tetapi juga menebangi batang kayu dan ranting sepanjang jalur pendakian untuk dijadikan tongkat.</p>
<p style="text-align:justify;" align="center">***</p>
<p style="text-align:justify;">Beberapa waktu ini pemerintah melalui PU memang membangun kembali beberapa infrastruktur adat seperti Rumah-rumah peninggalan masa lalu (Desa Beleq) dan rumah adat di lapangan Desa yang berdekatan dengan situs Maqom Sembah Ulun. Sayangnya, masyarakat pada umumnya –termasuk tokoh-tokoh adat di Sembalun tidak dilibatkan dalam perencanaan maupun kegiatan pembangunannya. Mereka bahkan tidak tahu siapa yang memiliki inisiatif itu dan siapa pula kontraktor yang mengerjakannya. Mereka hanya tahu bahwa saat ini telah berdiri bangunan-bangunan adat yang ‘mentereng’ tetapi sangat tidak sesuai dengan gambaran atau konstruksi yang mereka harapkan.</p>
<p style="text-align:justify;"> “Bentuk bangunannya menyalahi model aslinya, mas.” Kata salah seorang pemuka adat. ‘tangga yang harusnya berjumlah tujuh tingkat jadi lima, sementara atap itu juga kurang tinggi,” tambahnya. “Kenapa lantainya tidak dari tanah? Bolehlah beton biar awet, tapi harusnya dilapisi tanah agar kelihatan keasliannya,” kata yang lainnya. Mungkin bagi sebagian orang hal-hal seperti itu –jumlah tangga tidak berarti apa-apa. Tetapi bagi masyarakat tradisi apapun yang berkaitan dengan adat itu tentu sarat dengan makna dan nilai filosofis. Mereka juga tidak tahu bangunan-bangunan itu untuk apa, diperuntukkan bagi siapa, dan siapa yang akan merawatnya, sebab krama adat juga merasa tidak dilibatkan.</p>
<p style="text-align:justify;" align="center">Para kawula muda bersemangat mengikuti jalannya upacara&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;" align="center">Ribuan masyarakat berkumpul dan berdesakan untuk mengikuti jalannya upacara&#8230;</p>
<br />Filed under: <a href='http://imsakjakarta.wordpress.com/category/pariwisata/'>Pariwisata</a> Tagged: <a href='http://imsakjakarta.wordpress.com/tag/pulau-lombok/'>pulau lombok</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/imsakjakarta.wordpress.com/489/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/imsakjakarta.wordpress.com/489/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/imsakjakarta.wordpress.com/489/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/imsakjakarta.wordpress.com/489/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/imsakjakarta.wordpress.com/489/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/imsakjakarta.wordpress.com/489/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/imsakjakarta.wordpress.com/489/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/imsakjakarta.wordpress.com/489/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/imsakjakarta.wordpress.com/489/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/imsakjakarta.wordpress.com/489/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/imsakjakarta.wordpress.com/489/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/imsakjakarta.wordpress.com/489/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/imsakjakarta.wordpress.com/489/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/imsakjakarta.wordpress.com/489/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=imsakjakarta.wordpress.com&amp;blog=3684320&amp;post=489&amp;subd=imsakjakarta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://imsakjakarta.wordpress.com/2011/12/26/sembalun-dan-pertarungan-tradisi-modern/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2e0f6b7d1db2c6d84b40417276dd0464?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">imsakjakarta</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Rekonstruksi Buku Teks Sekolah</title>
		<link>http://imsakjakarta.wordpress.com/2011/01/23/rekonstruksi-buku-teks-sekolah/</link>
		<comments>http://imsakjakarta.wordpress.com/2011/01/23/rekonstruksi-buku-teks-sekolah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 Jan 2011 10:18:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>imsakjakarta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Materi Diskusi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://imsakjakarta.wordpress.com/?p=446</guid>
		<description><![CDATA[Rekonstruksi Buku Teks Sekolah[1] Oleh Jamaludin [2], (Dewan Penasehat IMSAK-Jakarta) Buku pelajaran (textbook) merupakan media pembelajaran yang dominan bahkan sentral dalam sebuah sistem pendidikan. Ia adalah kendaraan utama &#8216;transfusi&#8217; materi kurikulum ke hadapan siswa. Karena perannya yang demikian sentral itu maka kemajuan dan kemunduran pendidikan suatu bangsa dapat dilacak dari tinggi-rendahnya mutu buku teks yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=imsakjakarta.wordpress.com&amp;blog=3684320&amp;post=446&amp;subd=imsakjakarta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><div><embed src='http://widget-d1.slide.com/widgets/slideticker.swf' type='application/x-shockwave-flash' quality='high' scale='noscale' salign='l' wmode='transparent' flashvars='site=widget-d1.slide.com&channel=1297036692709598161&cy=wp&il=1' width='426' height='320' name='flashticker' align='middle' /><div style='width: 426px;text-align:left;'><a href='http://www.slide.com/pivot?ad=0&tt=0&sk=0&cy=wp&th=0&id=1297036692709598161&map=1' target='_blank'><img src='http://widget-d1.slide.com/p1/1297036692709598161/wp_t000_v000_a000_f00/images/xslide1.gif' border='0' ismap='ismap' /></a> <a href='http://www.slide.com/pivot?ad=0&tt=0&sk=0&cy=wp&th=0&id=1297036692709598161&map=2' target='_blank'><img src='http://widget-d1.slide.com/p2/1297036692709598161/wp_t000_v000_a000_f00/images/xslide2.gif' border='0' ismap='ismap' /></a></div></div></p>
<p style="text-align:center;"><strong>Rekonstruksi Buku Teks Sekolah<a href="#_ftn1">[1]</a></strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong>Oleh Jamaludin <a href="#_ftn2"><strong>[2]</strong></a></strong><strong>, </strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong>(Dewan Penasehat IMSAK-Jakarta)</strong></p>
<div id="attachment_451" class="wp-caption alignleft" style="width: 133px"><a href="http://imsakjakarta.files.wordpress.com/2011/01/100_6062.jpg"><img class="size-medium wp-image-451 " title="Sedang Memberikan materi Diskusi" src="http://imsakjakarta.files.wordpress.com/2011/01/100_6062-e1295807578427.jpg?w=123&#038;h=164" alt="Pak Jamaluddin" width="123" height="164" /></a><p class="wp-caption-text">Pak Jamaluddin</p></div>
<p style="text-align:justify;">Buku pelajaran (textbook) merupakan media pembelajaran yang dominan bahkan sentral dalam sebuah sistem pendidikan. Ia adalah kendaraan utama &#8216;transfusi&#8217; materi kurikulum ke hadapan siswa. Karena perannya yang demikian sentral itu maka kemajuan dan kemunduran pendidikan suatu bangsa dapat dilacak dari tinggi-rendahnya mutu buku teks yang dibaca oleh anak didik.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebuah studi yang dilakukan oleh Kathy Chekley (1997), misalnya, menemukan bahwa ketertinggalan siswa Amerika dari siswa Jepang dalam penguasaan matematika dan sains berawal dari buku-buku teks sekolah Amerika yang cenderung &#8216;a mile wide and an inch deep&#8217;. Buku-buku teks sekolah Amerika dipenuhi oleh halaman-halaman tanpa makna (meaningless) dan terlalu detail terhadap konsep-konsep kecil, sementara buku-buku teks Jepang menganut prinsip &#8216;less is more&#8217; (sedikit itu banyak). Untuk pelajaran fisika-biologi kelas 6, misalnya, buku teks Jepang hanya memuat 6 topik sedangkan Amerika 65 topik. Dihadapkan dengan kenyataan ini Amerika melalui Project 2061 yang diluncurkan tahun 2001 memberi perhatian besar terhadap penulisan buku-buku teks yang berorientasi pada kedalaman substansi dan proses.<span id="more-446"></span></p>
<div id="attachment_453" class="wp-caption alignright" style="width: 232px"><a href="http://imsakjakarta.files.wordpress.com/2011/01/100_6056.jpg?w=300"><img class="size-medium wp-image-453 " title="100_6056" src="http://imsakjakarta.files.wordpress.com/2011/01/100_6056.jpg?w=222&#038;h=140" alt="" width="222" height="140" /></a><p class="wp-caption-text">Suasana Diskusi</p></div>
<p style="text-align:justify;">Bagaimana dengan buku-buku teks sekolah di Indonesia? Keadaannya lebih parah. Di samping tingkat kepadatan materi yang tinggi, buku teks sekolah Indonesia menyimpan cacat isi (content) yang mendasar. Sebuah riset yang dilakukan oleh Sri Redjeki (1997), misalnya, menunjukkan bahwa buku-buku pelajaran yang dikonsumsi pelajar Indonesia tertinggal 50 tahun dari perkembangan terbaru sains modern. Hal yang sama terjadi juga pada pelajaran lain termasuk pelajaran agama. Buku pelajaran agama bahkan lebih menyerupai buku teks subjek matematika atau fisika yang sarat dengan rumus dan lebih mementingkan penghafalan materi ketimbang rumusan moralitas dalam proses dan praktik. Ini terlihat secara kasatmata karena pelajaran agama dinilai dengan satuan angka. Untuk memperoleh nilai bagus dalam pelajaran agama, seorang anak bahkan harus menghafal sedemikian banyak soal bahkan dalam bentuk multiple choice. Bisa dibayangkan, buku teks agama kita sangat tidak menarik karena anak dikejar-kejar dengan nilai, bukan proses penanaman etika dalam proses belajar keseharian.</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">Memang banyak muncul buku teks terbitan terbaru, apalagi dengan kebijakan e-book baru-baru ini, akan tetapi isinya tidak fokus dan sering kali merupakan pengulangan-pengulangan. Yang terjadi sesungguhnya adalah sebuah siklus daur ulang materi-materi lama dengan referensi lama pula untuk tidak mengatakan kadaluwarsa sehingga perkembangan pengetahuan siswa pada dasarnya jalan di tempat. Dengan kondisi ini, harapan agar siswa bisa mengantisipasi masa depan menjadi slogan belaka. Bagaimana mungkin mengharapkan mereka mampu mengantisipasi masa depan jika pelajaran-pelajaran yang disodorkan justru tidak responsif terhadap perkembangan yang sedang terjadi?</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Nilai strategis</strong></p>
<div id="attachment_455" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://imsakjakarta.files.wordpress.com/2011/01/100_6028.jpg"><img class="size-medium wp-image-455" title="100_6028" src="http://imsakjakarta.files.wordpress.com/2011/01/100_6028.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Sedang mendengarkan Pemateri</p></div>
<p style="text-align:justify;">DALAM studi Dedi Supriadi (Anatomi Buku Sekolah di Indonesia, 2000) terungkap bahwa buku pelajaran (textbook) merupakan satu-satunya buku rujukan yang dibaca oleh siswa, bahkan juga oleh sebagian besar guru. Hal ini setidaknya menunjukkan dua hal. Pertama, ketergantungan siswa dan guru yang begitu besar terhadap kelemahan mendasar dunia pendidikan nasional, tetapi pada sisi lain menginspirasikan treatment strategis bagi pengembangannya. Fenomena ini sesungguhnya menyodorkan satu hal urgen, buku paket bisa menjadi katalisator (baca: jalan pintas) peningkatan mutu pendidikan Indonesia yang sedang terpuruk.</p>
<p style="text-align:justify;">Ada beberapa alasan mengapa buku paket menjadi alternatif strategis-akseleratif pembangunan kembali dunia pendidikan Indonesia yang sudah bangkrut. Pertama, kualitas guru yang sebagian besar tidak memadai. Sudah menjadi pengakuan umum bahwa rendahnya kualitas guru Indonesia karena beberapa sebab yang memang tidak kondusif bagi mereka untuk berkembang dan profesional dalam bidangnya adalah salah satu titik lemah pendidikan nasional.</p>
<p style="text-align:justify;">Rendahnya mutu guru salah satunya disebabkan oleh masih adanya angka guru mismatch dan underqualified yang relatif tinggi. Beberapa usaha telah dilakukan untuk meningkatkan profesionalisme guru seperti inservice training, sertifikasi, atau bahkan program pascasarjana. Tetapi usaha semacam ini, di samping sulit menjamin kualitas hasilnya, juga membutuhkan biaya besar dan waktu lama.</p>
<p style="text-align:justify;">Di tengah kondisi yang demikian, perlu dicari alternatif yang paling mungkin untuk menolong siswa dalam jangka pendek, dan tanpa membutuhkan waktu terlalu lama. Dalam hal ini, kehadiran buku pelajaran berkualitas yang dirancang dengan asumsi &#8216;bisa dipahami dengan baik tanpa guru sekalipun&#8217; dan, tentunya, relevan terhadap temuan terbaru menjadi sangat mendesak.</p>
<p style="text-align:justify;">Kedua, seperti yang diungkap di atas, buku paket merupakan satu-satunya buku rujukan yang dapat diakses (baca: dibaca) oleh hampir seluruh siswa, bahkan juga oleh sebagian besar guru. Tragis sekali bila satu-satunya sumber belajar yang bisa diakses siswa ini tidak ditangani secara serius. Di samping itu, seperti yang ditunjukkan oleh laporan International Education Achievement, minat baca siswa di sekolah-sekolah Indonesia menempati nomor dua terakhir dari 39 negara yang disurvei. Tentunya, keadaannya akan semakin parah bila minat baca siswa yang minim tersebut diperburuk oleh rendahnya kualitas buku pegangan yang menjadi satu-satunya buku bacaan mereka. Mereka bisa jadi kehilangan minat terhadap buku.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Lima kelemahan</strong></p>
<div id="attachment_456" class="wp-caption alignleft" style="width: 235px"><a href="http://imsakjakarta.files.wordpress.com/2011/01/100_6050.jpg"><img class="size-medium wp-image-456 " title="100_6050" src="http://imsakjakarta.files.wordpress.com/2011/01/100_6050.jpg?w=225&#038;h=300" alt="" width="225" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">santai sejenak</p></div>
<p style="text-align:justify;">KELEMAHAN buku-buku teks yang banyak beredar setidaknya mencakup lima hal, yaitu isi, bahasa, desain grafis, metodologi penulisan, dan strategi indexing. Seperti disinggung di atas, masalah isi mengandung dua cacat pokok, yakni terlalu banyak dan kadaluwarsa dan karena itu menyesatkan, sebab sudah tidak sesuai dengan penemuan-penemuan mutakhir. Hal ini setidaknya juga bisa dilihat dari referensi lama yang dipergunakan.</p>
<p style="text-align:justify;">Pengakuan para penyusun buku seperti diungkap Supriadi patut mendapat catatan: Para penyusun bukannya &#8216;menulis buku baru dengan referensi yang baru pula&#8217;, melainkan &#8216;menata ulang&#8217;, &#8216;mengemas kembali&#8217;, atau &#8216;merakit kembali&#8217; materi-materi yang telah ada dalam buku-buku sebelumnya. Maka yang terjadi sebenarnya adalah reproduksi ulang kesalahan-kesalahan sebelumnya dengan kemasan baru.</p>
<p style="text-align:justify;">Dari segi bahasa dan ilustrasi, kelemahan menonjol buku-buku teks adalah penggunaan bahasa dan ilustrasi yang tidak komunikatif sehingga tidak berhasil menyampaikan pesan inti buku. Dari segi metodologi penulisan, dapat dilihat dari tidak adanya nuansa yang bisa menggugah kesadaran afektif-emosional siswa, terutama dalam buku-buku sosial, moral, dan keagamaan. Pendekatan yang dipakai terlalu materialistik, kering, dan membosankan sehingga gagal menyampaikan pesan isi (content provision) sebuah buku.</p>
<p style="text-align:justify;">Dari aspek strategi kemudahan untuk membaca, indexing hampir tak pernah ada dalam buku-buku teks sekolah anak-anak kita. Tidak seperti buku-buku teks semisal di Singapura dan Amerika yang kaya dengan indeks. Buku-buku teks kita miskin inisiatif bahkan untuk sebagian buku teks di perguruan tinggi. Dalam beberapa studi disebutkan, ketersediaan indeks dalam buku teks akan menaikkan tingkat analitis dan daya kritis anak terhadap setiap persoalan. Karena, dengan indeks seorang anak akan belajar bagaimana melihat kebutuhan pokok bahasan yang sesuai dengan minat dan keinginannya tanpa perlu waktu lama dalam memperolehnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Kelima masalah di atas bisa jadi berawal dari honor yang diterima oleh para penulis sangat kecil dan kadang tidak manusiawi. Bagaimana tidak, walaupun anggaran yang dialokasikan untuk buku sangat besar, yang diterima oleh penulis justru sangat tidak wajar. Menurut Rencana Proyek Pengembangan Buku dan Minat Baca, Ditjen Dikdasmen, misalnya, alokasi dana pengembangan buku tidak kurang dari US$350 juta. Dengan kurs rata-rata Rp10.000 per dolar, jumlah itu sama dengan Rp3,5 triliun lebih! Idealnya, dengan dana yang demikian besar, pemerintah seharusnya bisa membangun semacam &#8216;Kamp Konsentrasi Penulisan Buku Paket&#8217; dengan membayar penulis-penulis andal dengan satu tema besar, Melahirkan buku-buku teks berkualitas bagi pembangunan masa depan bangsa.</p>
<p style="text-align:justify;">BILA kita sepakat bahwa yang paling berkepentingan dalam pendidikan adalah siswa, dan bahwa setiap usaha peningkatan mutu pendidikan bertujuan untuk memaksimalkan kemampuan siswa, sudah saatnya usaha yang diprioritaskan adalah yang paling mungkin dirasakan langsung oleh setiap siswa. Tidak bisa dimungkiri, buku paket merupakan salah satu kalau tidak satu-satunya media belajar yang bisa dipegang, dirasakan, bahkan menjadi teman tidur siswa yang kebetulan sebagian besar miskin dan tak berdaya itu di pojok-pojok kamar mereka. Merupakan kekeliruan fatal bila kemudian &#8216;teman setia&#8217;-nya tersebut tidak mampu mengantarnya ke gerbang pengetahuan dan masa depan yang lebih baik.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Jamaludin, pengamat perbukuan dan Direktur Yayasan Buku Cerdas, Jakarta</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dimuat di Media Indonesia, Senin, 07 Desember 2009</p>
<div style="text-align:justify;">
<hr size="1" />
<div>
<p><a href="#_ftnref1">[1]</a> Disampaikan di Forum diskusi IMSAK Jakarta.Ahad, Tanggal 23 Januari 2011</p>
</div>
<div style="text-align:center;">
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> Jamaluddin adalah warga SASAK Lombok dan sebagai Penasehat IMSAK Jakarta, dan sekarang sebagai stap di DEPAG Pusat</p>
</div>
</div>
<br />Filed under: <a href='http://imsakjakarta.wordpress.com/category/pendidikan/'>Pendidikan</a> Tagged: <a href='http://imsakjakarta.wordpress.com/tag/materi-diskusi/'>Materi Diskusi</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/imsakjakarta.wordpress.com/446/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/imsakjakarta.wordpress.com/446/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/imsakjakarta.wordpress.com/446/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/imsakjakarta.wordpress.com/446/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/imsakjakarta.wordpress.com/446/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/imsakjakarta.wordpress.com/446/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/imsakjakarta.wordpress.com/446/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/imsakjakarta.wordpress.com/446/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/imsakjakarta.wordpress.com/446/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/imsakjakarta.wordpress.com/446/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/imsakjakarta.wordpress.com/446/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/imsakjakarta.wordpress.com/446/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/imsakjakarta.wordpress.com/446/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/imsakjakarta.wordpress.com/446/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=imsakjakarta.wordpress.com&amp;blog=3684320&amp;post=446&amp;subd=imsakjakarta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://imsakjakarta.wordpress.com/2011/01/23/rekonstruksi-buku-teks-sekolah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2e0f6b7d1db2c6d84b40417276dd0464?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">imsakjakarta</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://imsakjakarta.files.wordpress.com/2011/01/100_6062-e1295807578427.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">Sedang Memberikan materi Diskusi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://imsakjakarta.files.wordpress.com/2011/01/100_6056.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">100_6056</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://imsakjakarta.files.wordpress.com/2011/01/100_6028.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">100_6028</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://imsakjakarta.files.wordpress.com/2011/01/100_6050.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">100_6050</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>TRADISI MERARIQ’: AKULTURASI ISLAM DAN BUDAYA LOKAL</title>
		<link>http://imsakjakarta.wordpress.com/2011/01/10/434/</link>
		<comments>http://imsakjakarta.wordpress.com/2011/01/10/434/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Jan 2011 10:15:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>imsakjakarta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Tulisan Bajang Sasak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://imsakjakarta.wordpress.com/?p=434</guid>
		<description><![CDATA[TRADISI MERARI’: AKULTURASI ISLAM DAN BUDAYA LOKAL[1] Oleh: Muhammad Harfin Zuhdi, MA Prolog Islam secara teologis, merupakan sistem nilai dan ajaran yang bersifat Ilahiyah dan transenden. Sedangkan dari aspek sosiologis, Islam merupakan fenomena peradaban, kultural dan realitas sosial dalam kehidupan manusia. Dialektika Islam dengan realitas kehidupan sejatinya merupakan realitas yang terus menerus menyertai agama ini [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=imsakjakarta.wordpress.com&amp;blog=3684320&amp;post=434&amp;subd=imsakjakarta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><strong>TRADISI MERARI’: AKULTURASI ISLAM DAN BUDAYA LOKAL</strong><a href="#_ftn1"><strong><strong>[1]</strong></strong></a><strong> </strong></p>
<p style="text-align:center;">Oleh: Muhammad Harfin Zuhdi, MA</p>
<p style="text-align:center;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong>Prolog</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://imsakjakarta.files.wordpress.com/2011/01/harfin1.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-435" title="harfin" src="http://imsakjakarta.files.wordpress.com/2011/01/harfin1.jpg?w=468" alt=""   /></a>Islam secara teologis, merupakan sistem nilai dan ajaran yang bersifat Ilahiyah dan transenden. Sedangkan dari aspek sosiologis, Islam merupakan fenomena peradaban, kultural dan realitas sosial dalam kehidupan manusia. Dialektika Islam dengan realitas kehidupan sejatinya merupakan realitas yang terus menerus menyertai agama ini sepanjang sejarahnya. Sejak awal kelahirannya, Islam tumbuh dan berkembang dalam suatu kondisi yang tidak hampa budaya. Realitas kehidupan ini –diakui atau tidak—memiliki peran yang cukup signifikan dalam mengantarkan Islam menuju perkembangannya yang aktual sehingga sampai pada suatu peradaban yang mewakili dan diakui okeh masyarakat dunia.</p>
<p style="text-align:justify;">Aktualisasi Islam dalam lintasan sejarah telah menjadikan Islam tidak dapat dilepaskan dari aspek lokalitas, mulai dari budaya Arab, Persi, Turki, India sampai Melayu. Masing-masing dengan karakteristiknya sendiri, tapi sekaligus mencerminkan nilai-nilai ketauhidan sebagai suatu <em>unity </em>sebagai benang merah yang mengikat secara kokoh satu sama lain. Islam sejarah yang beragam tapi satu ini merupakan penerjemahan Islam universal ke dalam realitas kehidupan umat manusia.<span id="more-434"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Relasi antara Islam sebagai agama dengan adat dan budaya lokal  sangat jelas dalam kajian antropologi agama. Dalam perspektif ini diyakini, bahwa agama merupakan penjelmaan dari sistem budaya.<a href="#_ftn2">[2]</a> Berdasarkan teori ini, Islam sebagai agama samawi dianggap merupakan penjelmaan dari sistem budaya suatu masyarakat Muslim. Tesis ini kemudian dikembangkan pada aspek-aspek ajaran Islam, termasuk aspek hukumnya. Para pakar antropologi dan sosiologi mendekati hukum Islam sebagai sebuah institusi kebudayaan Muslim. Pada konteks sekarang, pengkajian hukum dengan pendekatan sosiologis dan antrologis sudah dikembangkan oleh para ahli hukum Islam yang peduli terhadap nasib syari’ah. Dalam pandangan mereka, jika syari’ah tidak didekati secara sosio-historis, maka yang terjadi adalah pembakuan terhadap norma syariah yang sejatinya bersifat dinamis dan mengakomodasi perubahan masyarakat.<a href="#_ftn3">[3]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Islam sebagai agama, kebudayaan dan peradaban besar dunia sudah sejak awal masuk ke Indonesia pada abad ke-7 dan terus berkembang hingga kini. Ia telah memberi sumbangsih terhadap keanekaragaman kebudayaan nusantara. Islam tidak saja hadir dalam tradisi agung [<em>great tradition</em>] bahkan memperkaya pluralitas dengan islamisasi kebudaya andan pribumisasi Islam yang pada gilirannya banyak melahirkan tradisi-tardisi kecil [<em>little tradition</em>] Islam. Berbagai warna Islam –-dari Aceh, Melayu, Jawa, Sunda, Sasak, Bugis, dan lainnya—riuh rendah memberi corak tertentu keragaman, yang akibatnya dapat berwajah ambigu. Ambiguitas atau juga disebut ambivalensi adalah fungsi agama yang sudah diterima secara umum dari sudut pandang sosiologis.</p>
<p style="text-align:justify;">Perkawinan merupakan suatu peristiwa penting dalam kehidupan suku Sasak. Seseorang baru dianggap sebagai warga penuh dari suatu masyarakat apabila ia telah berkeluarga. Dengan demikian ia akan memperoleh hak-hak dan kewajiban baik sebagai warga kelompok kerabat atau pun sebagai warga masyarakat. Sebagaimana perkawinan menurut Islam dikonsepsikan sebagai jalan mendapatkan kehidupan berpasang-pasangan, tenteram dan damai (<em>mawaddah wa rahmat)</em> sekaligus sebagai sarana pelanjutan generasi (mendapatkan keturunan), maka perkawinan bagi masyarakat Sasak juga memiliki makna yang sangat luas, bahkan menurut orang Sasak, perkawinan bukan hanya mempersatukan seorang laki-laki dengan seorang perempuan saja, tetapi sekaligus mengandung arti untuk mempersatukan hubungan dua keluarga besar, yaitu kerabat pihak laki-laki dan kerabat pihak perempuan.</p>
<p style="text-align:justify;">Berdasarkan tujuan besar tersebut, maka terdapat tiga macam perkawinan dalam masyarakat suku Sasak Lombok, yaitu: (1) perkawinan antara seorang pria dengan seorang perempuan dalam satu <em>kadang waris</em> yang disebut <em>perkawinan betempuh pisa’</em> (misan dengan misan/<em>cross cousin</em>); (2) perkawinan antara pria dan perempuan yang mempunyai hubungan <em>kadang jari</em> (ikatan keluarga) disebut <em>perkawinan sambung uwat benang</em> (untuk memperkuat hubungan kekeluargaan); dan (3) perkawinan antara pihak laki-laki dan perempuan yang tidak ada hubungan perkadangan (kekerabatan) disebut <em>perkawinan pegaluh gumi </em>(memperluas daerah/wilayah).<a href="#_ftn4">[4]</a> Dengan demikian, maka semakin jelas bahwa tujuan perkawinan menurut adat Sasak adalah untuk melanjutkan keturunan (penerus generasi), memperkokoh ikatan kekerabatan dan memperluas hubungan kekeluargaan.</p>
<p style="text-align:justify;">Selanjutnya, apabila membahas perkawinan suku Sasak, tidak bisa tidak membicarakan <em>merari’</em>, yaitu melarikan anak gadis untuk dijadikan istri. <em>Merari’ </em>sebagai ritual memulai perkawinan merupakan fenomena yang sangat unik, dan mungkin hanya dapat ditemui di masyarakat Sasak, Lombok, Nusa Tenggara Barat. Begitu mendarah dagingnya tradisi ini dalam masyarakat, sehingga apabila ada orang yang ingin mengetahui status pernikahan seseorang, orang tersebut cukup bertanya apakah yang bersangkutan telah <em>merari’</em> atau belum. Oleh karenanya tepat jika dikatakan bahwa <em>merari’</em> merupakan hal yang sangat penting dalam perkawinan Sasak. Bahkan, meminta anak perempuan secara langsung kepada ayahnya untuk dinikahi tidak ada bedanya dengan meminta seekor ayam.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:center;"><span style="text-decoration:underline;"><strong>Merariq dan Latar Sejarah Tradsinya</strong></span></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://imsakjakarta.files.wordpress.com/2011/01/pengantian.jpg"><img class="size-medium wp-image-436 alignleft" title="pengantian" src="http://imsakjakarta.files.wordpress.com/2011/01/pengantian.jpg?w=200&#038;h=299" alt="" width="200" height="299" /></a>Dalam adat Sasak pernikahan sering disebut dengan <em>merari’</em>. Secara etimologis kata <em>merari’</em> diambil dari kata “lari”, berlari. <em>Merari’</em>an berarti melai’ang artinya melarikan. Kawin lari, adalah sistem adat penikahan yang masih diterapkan di Lombok. Kawin lari dalam bahasa Sasak disebut <em>merari’</em>.<a href="#_ftn5">[5]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Secara terminologis, <em>merari’</em> mengandung dua arti. Pertama, lari. Ini adalah arti yang sebenarnya. Kedua, keseluruhan pelaksanaan perkawinan menurut adat Sasak. Pelarian merupakan tindakan nyata untuk membebaskan gadis dari ikatan orang tua serta keluarganya.<a href="#_ftn6">[6]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Berdasarkan informasi dari nara sumber tentang sejarah munculnya tradisi kawin lari (<em>merari’</em>) di pulau Lombok, paling tidak ada dua pandangan yang mengemuka, yaitu: <em>Pertama</em>, orisinalitas <em>merari’</em>. Kawin lari (<em>merari’</em>) dianggap sebagai budaya produk lokal dan merupakan ritual asli (<em>genuine</em>) dan leluhur masyarakat Sasak yang sudah dipraktikkan oleh masyarakat-sebelum datangnya kolonial Bali maupun kolonial Belanda. Pendapat ini didukung oleh sebagian masyarakat Sasak yang dipelopori oleh tokoh tokoh adat, di antaranya adalah H.Lalu Azhar, mantan wagub NTB dan kini ketua Masyarakat Adat Sasak (MAS); dan peneliti Belanda, Nieuwenhuyzen mendukung pandangan ini. Menurut Nieuwenhuyzen, sebagaimana dikutip Tim Depdikbud, banyak adat Sasak yang memiliki persamaan dengan adat suku Bali, tetapi kebiasaan atau adat, khususnya perkawinan Sasak, adalah adat Sasak yang sebenarnya.<a href="#_ftn7">[7]</a></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Kedua</em>, akulturasi <em>merari’</em>. Kawin lari (<em>merari’</em>) dianggap budaya produk impor dan bukan asli (<em>ungenuine</em>) dari leluhur masyarakat Sasak serta tidak dipraktikkan masyarakat sebelum datangnya kolonial Bali. Pendapat ini didukung oleh sebagian masyarakat Sasak dan dipelopori oleh tokoh agama, Pada tahun 1955 di Bengkel Lombok Barat,Tuan Guru Haji Saleh Hambali menghapus, kawin lari (<em>merari’</em>) karena dianggap manifestasi hinduisme Bali dan tidak sesuai dengan Islam. Hal yang sama dapat dijumpai di desa yang menjadi basis kegiatan Islam di Lombok, seperti Pancor, Kelayu, dan lain-lain. Menurut John Ryan Bartholomew, praktik kawin lari dipinjam dari budaya Bali. Analisis antropologis historis yang dilakukan Clifford Geertz dalam bukunya <em>Internal Convention in Bali </em>(1973), Hildred Geertz dalam, tulisannya <em>An Anthropology of Religion and Magic</em> (1975), dan James Boon dalam bukunya, <em>The Anthropological Romance of Bali</em> (1977), seperti dikutip Bartolomew,<a href="#_ftn8">[8]</a> memperkuat pandangan akulturasi budaya Bali dan Lombok dalam <em>merari’</em>. Solichin Salam menegaskan bahwa praktik kawin lari di Lombok merupakan pengaruh dari tradisi kasta dalam budaya Hindu Bali. Berdasarkan kedua argumen tentang sejarah kawin lari (<em>merari’</em>) di atas, tampak bahwa paham akulturasi <em>merari’</em> memiliki tingkat akurasi lebih valid.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam konteks ini penulis lebih condong kepada pendapat kedua, yakni <em>merari’</em> ini dilatarbelakangi oleh pengaruh adat hindu-Bali. Sebagai bagian dari rekayasa sosial budaya hindu-Bali terhadap suku Sasak, dalam suku Sasak dikenal adanya strata sosial yang disebut triwangsa. Strata sosial ini sudah jelas sama dengan pola hindu-Bali.</p>
<p style="text-align:justify;">Tradisi <em>merari’</em> ini merupakan bagian dari kebudayaan. Kebudayaan dan kehidupan sosial masyarakat Lombok tidak bisa lepas dari dikotomi kebudayaan nusantara. Ada dua aliran utama yang mempengaruhi kebudayaan nusantara, yaitu tradisi kebudayaan Jawa yang dipengaruhl oleh filsafat Hindu-Budha dan tradisi kebudayaan Islam. Kedua aliran kebudayaan itu Nampak jelas pada kebudayaan orang Lombok. Golongan pertama, di pusat-pusat kota Mataram dan Cakranegara, terdapat masyarakat orang Bali, penganut ajaran Hindu-Bali sebagai sinkretis Hindu-Budha.<a href="#_ftn9">[9]</a> Golongan kedua, sebagian besar dari penduduk Lombok, beragama Islam dan peri-kehidupan serta tatanan sosial budayanya dipengaruhi oleh agama tersebut. Mereka sebagian besar adalah orang Sasak.<a href="#_ftn10">[10]</a></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Merari’</em> sebagai sebuah tradisi yang biasa berlaku pada suku Sasak di Lombok ini memiliki logika tersendiri yang unik. Bagi masyarkat Sasak, <em>merari’ </em>berarti mempertahankan harga diri dan menggambarkan sikap kejantanan seorang pria Sasak, karena ia berhasil mengambil [melarikan] seorang gadis pujaan hatinya. Sementara pada isi lain, bagi orang tua gadis yang dilarikan juga cenderung enggan, kalau tidak dikatakan gengsi, untuk memberikan anaknya begitu saja jika diminta secara biasa [konvensional], karena mereka beranggapan bahwa anak gadisnya adalah sesuatu yang berharga, jika diminta secara biasa, maka dianggap seperti meminta barang yang tidak berharga. Ada ungkapan yang biasa diucapkan dalam bahasa Sasak: <em>Ara’m ngendeng anak manok baen</em> [seperti meminta anak ayam saja].  Jadi dalam konteks ini, <em>merari’</em> dipahami sebagai sebuah cara untuk melakukan prosesi pernikahan, di samping cara untuk keluar dari konflik.<a href="#_ftn11">[11]</a></p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Prinsip Dasar Tradisi Merari’ </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Bedasarkan penelitian M. Nur Yasin setidaknya ada empat prinsip dasar yang terkandung dalam praktik kawin lari (merari) di pulau Lombok.<a href="#_ftn12">[12]</a> <em>Pertama</em>, prestise keluarga perempuan. Kawin lari (<em>merari’</em>) dipahami dan diyakini sebagai bentuk kehormatan atas harkat dan martabat keluarga perempuan. Atas dasar keyakinan ini, seorang gadis yang dilarikan sama sekali tidak dianggap sebagai sebuah wanprestasi (pelanggaran sepihak) oleh keluarga lelaki atas keluarga perempuan, tetapi justru dianggap sebagai prestasi keluarga perempuan. Seorang gadis yang dilarikan merasa dianggap memiliki keistimewaan tertentu, sehingga menarik hati lelaki. Ada anggapan yang mengakar kuat dalam struktur memori dan mental masyarakat tertentu di Lombok bahwa dengan dilarikan berarti anak gadisnya memiliki nilai tawar ekonomis yang tinggi. Konsekuensinya, keluarga perempuan merasa terhina. jika perkawinan gadisnya tidak dengan kawin lari (<em>merari’</em>).</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Kedua</em>, superioritas, lelaki, inferioritas perempuan. Satu hal yang tak bisa dihindarkan dari sebuah kawin lari (<em>merari’</em>) adalah seseorang lelaki tampak sangat kuat, menguasai, dan mampu menjinakkan kondisi sosial psikologis calon istri.Terlepas apakah dilakukan atas dasar suka sama suka dan telah direncanakan sebelumnya maupun belum direncana-kan sebelumnya, kawin lari (<em>merari’</em>) tetap memberikan legitimasi yang kuat atas superioritas lelaki. Pada sisi lain menggambarkan sikap inferioritas, yakni ketidakberdayaan kaum perempuan atas segala tindakan yang dialaminya. Kesemarakan kawin lari (<em>merari’</em>) memperoleh kontribusi yang besar dari sikap sikap yang muncul dari kaum perempuan berupa rasa pasrah atau,bahkan menikmati suasana inferioritas tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Ketiga</em>, egalitarianisme.Terjadinya kawin lari (<em>merari’</em>) menimbulkan rasa kebersamaan (egalitarian) di kalangan seluruh keluarga perempuan. Tidak hanya bapak, ibu, kakak, dan adik sang gadis, tetapi paman, bibi, dan seluruh sanak saudara dan handai taulan ikut terdorong sentimen keluarganya untuk ikut menuntaskan keberlanjutan kawin lari (<em>merari’</em>). Kebersamaan melibatkan komunitas besar masyarakat di lingkungan setempat. Proses penuntasan kawin lari (<em>merari’</em>) tidak selalu berakhir dengan dilakukannya pernikahan, melainkan adakalanya berakhir dengan tidak terjadi pernikahan, karena tidak ada kesepakatan antara pihak keluarga calon suami dengan keluarga calon istri. Berbagai ritual, seperti mesejah, mbaitwah, sorongserah, dan sebagainya merupakan bukti konkrit kuatnya kebersamaan di antara keluarga dan komponen masyarakat.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Keempat</em>, komersial. Terjadinya kawin lari hampir selalu berlanjut ke proses tawar menawar <em>pisuke</em>. Proses nego berkaitan dengan besaran <em>pisuke</em> yang biasanya dilakukan dalam acara mbait wall sangat kenta! dengan nuansa bisnis. Apapun alasannya, pertimbangan-pertimbangan dari aspek ekonomi yang paling kuat dan dominan sepanjang acara mbait wali. Ada indikasi kuatbahwa seorang wah merasa telah membesarkan anakgadisnya sejak kecil hingga dewasa. Untuk semua usaha tersebut telah menghabiskan dana yang tidak sedikit. Sebagai akibatnya muncul sikap dari orang tua yang ingin agar biaya membesarkan anak gadisnya tersebut memperoleh ganti dari calon menantunya. Semakin tinggi tingkat pendidikan dan tingkat sosial anak dan orang tua semakin tinggi pula nilai tawar sang gadis. Sebaliknya, semakin rendah tingkat sosial dan tingkat pendidikan anak serta orang tua semakin rendah pula nilai ekonomis yang ditawarkan.</p>
<p style="text-align:justify;">Komersialisasi kawin lari tampak kuat dan tertuntut untuk selalu dilaksanakan apabila suami istri yang menikah sama sama berasal dari suku Sasak. Jika salah satu di antara calon suami istri berasal dari luar suku Sasak, ada kecenderungan bahwa tuntutan dilaksanakannya komersialisasi agak melemah. Hal ini terjadi karena ternyata ada dialog peradaban, adat, dan budaya antara nilai nilai yang dipegangi masyarakat Sasak dengan nilai nilai yang dipegangi oleh masyarakat luar Sasak. Kontak dialogis budaya dan peradaban yang kemudian menghasilkan kompromi tersebut sama sekali tidak menggambarkan inferioritas budaya Sasak, tetapi justru sebaliknya, budaya dan peradaban Sasak memiliki kesiapan untuk berdampingan dengan budaya dan peradaban luar Sasak. Sikap ini menunjukkan adanya keterbukaan masyarakat Sasak bahwa mulai kebaikan dan kebenaran dari manapun asal dan datangnya bisa dipahami dan bahkan diimplementasikan oleh masyarakat Sasak.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Sisi Positif Tradisi Merari’ </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Sikap “heroik” (kepahlawanan) merupakan salah satu alasan mengapa tradisi melarikan (melaian) dipertahankan dalam perkawinan dengan kekuatan adat di Lombok. Sikap demikian menurut masyarakat Lombok merupakan sesuatu yang mutlak diperlukan apabila berkeinginan untuk membina rumah tangga dengan calon mempelai perempuan yang sudah diidam-idamkan. Dari sisi spirit “heroisme” tersebut sesungguhnya memiliki relevansi yang sangat erat dengan ajaran Islam. Islam senantiasa mengajarkan agar dua pihak yang ingin menikah hendaklah didasari oleh perasaan yang kuat untuk saling memiliki. Hanya saja perasaan tersebut tidak harus ditunjukkan dengan cara melarikan gadis sebagai calon isteri. Bandingkan dengan beberapa ayat atau hadis yang berkaitan dengan anjuran menikah.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa: “<em>Manistatha’a min kum al-ba’at fa al-yatazawwaj</em>” (Barang siapa yang telah mampu untuk menunai-kan nafkah kepada calon isterinya, maka hendaklah menikah).<a href="#_ftn13">[13]</a> Mampu di sini diartikan mampu lahir maupun bathin, maka hendaklah mengajak calon isterinya menikah dengan cara yang diajarkan oleh Islam, yakni calon mempelai perempuan). Dalam Qs. al-Nisa (4): 4 disebutkan bahwa: ”Berikanlah  maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan.” Ayat ini dapat pula dianggap sebagai tanda kesiapan seorang calon suami untuk menikahi seorang perempuan. Sekali lagi kesiapan atau keberanian untuk menikah daiam Islam harus dilakukan dengan sikap yang mencerminkan kesiapan mental maupun material, bukan sikap berani melarikan anak perempuan orang lain hanya karena merasa mampu melarikan perempuan tanpa sepengetahuan keluarganya.</p>
<p style="text-align:justify;">Tradisi adat Sasak Lombok ini sebenarnya sudah banyak yang paralel dengan ajaran Islam, seperti soal pisuke dan nyongkolan.  Pisuke sesuai dengan namanya tidak boleh ada unsur pemaksaan, tetapi harus ada kerelaan keluarga kedua belah pihak. Demikian juga.acara nyongkolan merupakan sarana pengumuman dan silaturrahmi sebagaimana yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad saw. Hanya saja dalam kasus tertentu terjadi penyelewenagn oleh oknum  pada  acara nyongkolan yang  menyebabkan terjadinya perkelaian, mabuk-mabukan dengan minuman keras dan meninggalkan sholat, maka perilaku inilah yang perlu dihindari dalam praktek nyongkolan. Singkatnya, orang Sasak lah yang banyak melanggar aturan/adat Sasak itu sendiri. Hal ini bisa dilihat dari substansi buku yang ditulis oleh Gde Suparman.<a href="#_ftn14">[14]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Saat ini ada beberapa parktek adat yang telah mengalami metamorfosa dan perubahan paradigma di masyarakat Sasak tentang perspektif merari’ ini setelah mendalami ajaran agama Islam dan fenomena perkawinan adat lain di Indonesia seperti yang terjadi di Jawa dan Pulau Sumbawa. Perubahan ini memang tidak bisa secara sekaligus, tetapi secara bertahap, dan dimulai oleh warga Sasak yang berpendidikan dan memiliki pengalaman di daerah lain.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong>Sisi Negatif Tradisi Merari’</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://imsakjakarta.files.wordpress.com/2011/01/165546_181667888518393_100000255495635_607062_6100405_n1.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-440" title="165546_181667888518393_100000255495635_607062_6100405_n" src="http://imsakjakarta.files.wordpress.com/2011/01/165546_181667888518393_100000255495635_607062_6100405_n1.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a>Dalam banyak aspek (ranah) kehidupan.ternyata perempuan Sasak masih sangat marginal (<em>inferior</em>), sementara kaum laki-lakinya sangat superior. Marginalisasi perempuan dan superioritas laki-laki memang merupakan persoalan lama dan termasuk bagian dari peninggalan sejarah masa lalu. Sejak lahir perempuan Sasak mulai disubordinatkan sebagai orang yang disiapkan menjadi isteri calon suaminya kelak dengan anggapan “<em>ja’ne lalo/ja’ne tebait si’ semamenne</em>” (suatu saat akan meninggalkan orang tua diambil dan dimiliki suaminya). Sementara, kelahiran seorang anak laki-laki pertama biasanya lebih disukai dan dikenal dengan istilah “anak prangge” (anak pewaris tahta orang tuanya).<a href="#_ftn15">[15]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Begitu juga tradisi perkawinan Sasak, seakan-akan memposisikan perempuan sebagai barang dagangan. Hal ini terlihat dari awal proses perkawinan, yaitu dengan dilarikannya seorang perempuan yang dilanjutkan dengan adanya tawar menawar uang <em>pisuke </em>(jaminan).</p>
<p style="text-align:justify;">Menurut penuturan Muslihun Muslim,<a href="#_ftn16">[16]</a> dosen IAIN Mataram, terdapat 9 bentuk superioritas suami sebagai dampak dari tradisi perkawinan adat Sasak (<em>merari’</em>) sebagai berikut: (1) terjadinya perilaku atau sikap yang otoriter oleh suami dalam menentukan keputusan keluarga; (2) terbaginya pekerjaan domestik hanya bagi isteri dan dianggap tabu jika lelaki (suami) Sasak mengerjakan tugas-tugas domestik; (3) perempuan karier juga tetap diharuskan dapat mengerjakan tugas domestik di samping tugas atau pekerjaannya di luar rumah dalam memenuhi ekonomi keluarga (double faurden/peran ganda); (4) terjadinya praktek kawin-cerai yang sangat akut dan dalam kuantitas yang cukup besar di Lombok; (5) terjadinya peluang berpoligami yang lebih besar bagi laki-laki (suami) Sasak dibandingkan lelaki (suami) dari etnis lain; (6) kalau terjadi perkawinan lelaki jajar karang dengan perempuan bangsawan, anaknya tidak boleh menggunakan gelar kebangsawanan (mengikuti garis ayah), tetapi jika terjadi sebaliknya, anak berhak menyandang gelar kebangsawanan ayahnya<a href="#_ftn17">[17]</a>; (7) nilai perkawinan menjadi ternodai jika dikaitkan dengan pelunasan uang <em>pisuke</em>; (8) kalau terjadi perceraian, maka isterilah yang biasanya menyingkir dari rumah tanpa menikmati nafkah selama ‘iddah, kecuali dalam perkawinan <em>nyerah hukum atau nyerah mayung sebungkul</em>; (9) jarang dikenal ada pembagian harta bersama, harta biasanya diidentikkan sebagai harta ayah (suami) jika ada harta warisan, sehingga betapa banyak perempuan (mantan isteri) di Sasak yang hidup dari belaian nafkah anaknya karena dianggap sudah tidak memiliki kekayaan lagi.</p>
<p style="text-align:center;"><strong>Epilog</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://imsakjakarta.files.wordpress.com/2011/01/167990_181667508518431_100000255495635_607055_4354633_n1.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-441" title="167990_181667508518431_100000255495635_607055_4354633_n" src="http://imsakjakarta.files.wordpress.com/2011/01/167990_181667508518431_100000255495635_607055_4354633_n1.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a>Sejarah suku Sasak Lombok ditandai dengan silih bergantinya berbagai dominasi kekuasaan di pulau Lombok dan masuknya pengaruh budaya lain membawa dampak semakin kaya dan beragamnya khazanah kebudayaan Sasak. Hal ini sebagai bentuk dari pertemuan (difusi, akulturasi, inkulturasi) kebudayaan. Oleh karenanya tidak berlebihan, jika Lombok dikatakan sebagai potret sebuah mozaik. Ada banyak warna budaya dan nilai menyeruak di masyarakatnya. Mozaik ini terjadi antara lain karena Lombok masa lalu adalah merupakan objek perebutan dominasi berbagai budaya dan nilai. Dalam konteks ini paling tidak ada empat budaya yang paling signifikan mendominasi dan mempengaruhi perkembangan dinamika pulau ini, yaitu: 1) pengaruh Hindu Jawa; 2) pengaruh Hindu Bali; 3) pengaruh Islam; dan 4) pengaruh kolonialisme Belanda dan Jepang.</p>
<p style="text-align:justify;">Konversi orang ke dalam Islam sangat berkaitan erat dengan kenyataan adanya penaklukan dari kekuatan luar. Berbagai kekuatan asing yang menaklukkan Lombok selama berabad-abad sangat menentukan cara orang Sasak menyerap pengaruh-pengaruh luar tersebut.<a href="#_ftn18">[18]</a> Lebih lanjut, dalam konteks masyarakat Sasak Lombok, Islam merupakan rujukan utama dan lensa ideologis dalam memahami dan mengevaluasi perubahan. Islam mempunyai peranan yang sangat penting dalam menghadapi perubahan, dan akulturasi budaya dalam kehidupan sosial mereka.<strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Demikianlah merari’ dengan pernak pernik budaya akulturasinya telah memberi warna parokialitas pada tradisi masyarakat Sasak Lombok. Lebih jauh, akulturasi Islam dan budaya diharapkan mampu melakukan secara simultan langkah invensi dan inovasi sebagai upaya kreatif untuk menemukan, merekonsiliasi, dan mengkomunikasikan serta menghasilkan konstruksi-konstruksi baru. Konstruksi tersebut tidak harus merupakan pembaruan secara total atau kembali ke tradisi leluhur masa lalu secara total pula, namun pembaruan yang dimaksud di sini adalah pembaruan terbatas sesuai dengan prinsip <em>al</em>-<em>âdah</em> <em>mu<span style="text-decoration:underline;">h</span>akkamah</em>. Jadi, sebuah invensi dalam konteks pribumisasi Islam tidak dimaksudkan menemukan tradisi atau autentisitas secara literal, melainkan bagaimana tradisi-tradisi lokal itu menjadi sesuatu yang dapat berdialektika dan dimodifikasi ulang sesuai dengan konteks dimensi ruang dan waktu  sesuai dengan kaidah <em>taghayyur al-a<span style="text-decoration:underline;">h</span>kâm</em> <em>bi</em> <em>at-taghayyur al-azminah wa al-amkinah wa al-a<span style="text-decoration:underline;">h</span>wâl</em>. Pribumisasi Islam, dengan demikian merupakan proses yang tidak pernah berhenti mengupayakan berkurangnya ketegangan antara norma agama dan manifestasi budaya<em>. </em>Semoga<em>. </em><em>Wallâhu a’lam bi ash-shawâb.</em>[]</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<div style="text-align:justify;">
<hr size="1" />
<div>
<p><a href="#_ftnref1">[1]</a> Makalah diskusi minggu sore di sesangkok komunitas IMSAK Jakarta, 9 Jan’ 2011</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a>Bassam Tibbi,<em> Islam and Cultutral Accommodation of Social Change</em> , [San Francisco: Westview Pres, 1991], h. 1</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> Aziz al- Azmeh [ed.], <em>Islamic Law: Social and Historical Contexts</em>, [tp., 1988], h. viii</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> Wawancara dengan Lalu Gde Suparman, Budayawan Sasak di Mataram tanggal 17 Maret 2004; hal senada juga dikatakan oleh nara sumber lain, seperti Lalu Agus Fathurrahman.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a>Solichin Salam, Lombok Pulau Perawan: Sejaroh dan Masa Depannya (Jakarta: Kuning Mas, 1992), h. 22</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a>Tim Departemen Pendidikan  dan Kebudayaan, <em>Adat dan Upacara Perkawinan Daerah Nusa Tenggara Barat </em>(Jakarta: Depdikbud, 1995), h. 33</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref7">[7]</a> Ibid, h. 11</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref8">[8]</a> John Ryan Bartholemew, <em>Alif Lam Mim: Kearifan Masyarakat Sasak, </em>(Yogyakarta: Tiara Wacana, 2001), h. 203</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref9">[9]</a> Fath. Zakaria, <em>Mozaik Budaya Orang Mataram,</em> (Mataram: Yayasan Sumurmas Al-Hamidy, 1998), h. 10-11</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref10"></a> [10] I<em>bid</em>.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref11">[11]</a> Keluar dari konflik, biasanya dipahami dalam konteks ketika orang tua wanita menghalangi keinginan antara seorang laki-laki dan wanita yang ingin melakukan perkawinan. Wawancara dengan Husni Muaz, dan Idrus Abdullah, dosen Universitas Mataram Mataram, tanggal 17 Maret 2004. Hal senada juga diungkapkan oleh beberapa nara sumber yang penulis wawancarai, seperti Lalu Jalaludin Arzaki, dan Lalu Gde Superman. Lihat Muhammad Harfin Zuhdi, <em>Parokilaitas Adat Islam Wetu Telu Dalam Prosedur Perkawinan di Bayan Lombok</em>, (Tesis, Program Pasca Sarjana UIN Jakarta, 2004)</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref12">[12]</a>M. Nur Yasin, “<em>Kontekstualisasi Doktrin Tradisional Di Tengah Modernisasi Hukum Nasional: Studi tentang Kawin Lari (Merari’) di Pulau Lombok</em>”, Jurnal Istinbath No. I Vol. IV Desember 2006, h. 73-75.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref13">[13]</a>Ibn Rusyd, <em>Bidayah al-Mujtahid Ha Nihayah al-Muqtashid</em>, (Semarang: Usaha Keluarga, tt.), Jilid II, h. 2</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref14">[14]</a>Gde Suparman, Dulangl, Perkawinan, (Mataram: Lembaga Pembakuan dan PenyebaranAdat Sasak, 1995) dan bukunya, Titi Tata Adat Perkawinan Sasak, Kepembayunan Lan Candrasengkala (Mataram: Lembaga Pembukuan dan Penyebaran Adat Sasak Mataram Lombok, 1988).</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref15">[15]</a>Ani Wafiroh,”Pemberdayaan Wanita Sasak”. Tengaji, Majalah Berita dan Dakwah Edisi 12 Maret-9 April 2005</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref16">[16]</a>Wawancara pada tanggal 14 September 2010; lihat juga Muslihun Muslim dan Muhammad Taisir, <em>Tradisi Merari’: Analisis Hukum Islam dan Gender Terhadap Adat Perkawinan Sasak, </em>(Yogyakarta: Kurnia Kalam Semesta, 2009), h. 130-131</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref17">[17]</a> Kondisi ini telah menempatkan kaum perempuan bangsawan Sasak dalam posisi yang tidak menguntungkan, sehingga melahirkan pelbagai bentuk ketidakadilan gender (<em>gender inequalities</em>) yang termanifestasi antara lain dalam bentuk marginalisasi dan subordinasi. Bias gender dalam stratifikasi perempuan bangsawan Sasak ini menyebabkan mereka memiliki akses yang terbatas dalam menentukan jodohnya, sehingga banyak perempuan bangsawan yang terlambat kawin, bahkan tidak kawin sama sekali karena aturan dan pranata adat yang ketat dan rigit. Namun apabila ia nekat kawin dengan laki-laki dengan strata yang lebih rendah, maka ia akan menerima konsekuensi sanksi adat “dibuang” yang menempatkannya pada posisi marjinal dan subordinatif.. Lihat Muhammad Harfin Zuhdi, <em>Bias Gender Stratifikasi Perempuan Bangsawan Sasak Dalam Perkawinan Masyarakat Lombok Nusa Tenggara Barat, </em>(Penelitian Individual Kompetitif Kementerian Agama RI, 2010)<em> </em></p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref18">[18]</a> Muhammad Harfin Zuhdi, <em>Parokialitas Adat Tehadap Pola Keberagamaan Komunitas Islam Wetu Telu di Bayan Lombok, </em>(Jakarta: Lemlit UIN Jakarta, 2009), h. 19</p>
</div>
</div>
<br />Filed under: <a href='http://imsakjakarta.wordpress.com/category/agama/'>Agama</a>, <a href='http://imsakjakarta.wordpress.com/category/tulisan-bajang-sasak/'>Tulisan Bajang Sasak</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/imsakjakarta.wordpress.com/434/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/imsakjakarta.wordpress.com/434/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/imsakjakarta.wordpress.com/434/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/imsakjakarta.wordpress.com/434/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/imsakjakarta.wordpress.com/434/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/imsakjakarta.wordpress.com/434/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/imsakjakarta.wordpress.com/434/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/imsakjakarta.wordpress.com/434/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/imsakjakarta.wordpress.com/434/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/imsakjakarta.wordpress.com/434/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/imsakjakarta.wordpress.com/434/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/imsakjakarta.wordpress.com/434/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/imsakjakarta.wordpress.com/434/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/imsakjakarta.wordpress.com/434/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=imsakjakarta.wordpress.com&amp;blog=3684320&amp;post=434&amp;subd=imsakjakarta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://imsakjakarta.wordpress.com/2011/01/10/434/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2e0f6b7d1db2c6d84b40417276dd0464?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">imsakjakarta</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://imsakjakarta.files.wordpress.com/2011/01/harfin1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">harfin</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://imsakjakarta.files.wordpress.com/2011/01/pengantian.jpg?w=200" medium="image">
			<media:title type="html">pengantian</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://imsakjakarta.files.wordpress.com/2011/01/165546_181667888518393_100000255495635_607062_6100405_n1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">165546_181667888518393_100000255495635_607062_6100405_n</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://imsakjakarta.files.wordpress.com/2011/01/167990_181667508518431_100000255495635_607055_4354633_n1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">167990_181667508518431_100000255495635_607055_4354633_n</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
