SEMBALUN DAN PERTARUNGAN TRADISI-MODERN

SEMBALUN DAN PERTARUNGAN TRADISI-MODERN

Oleh: Paox Iben Mudhaffar

Syahdan, di sebuah lembah gelap gulita di Kaki gunung Rinjani hidup tujuh pasang suami istri. Kehidupan mereka masih sangat primitive. Lalu datang dua orang pendekar pengembara bernama Raden Harya Pati dan Harya Mangujaya.  Konon keduanya adalah utusan kerajaan Majapahit.  Dalam cerita yang tertulis di Lontar orang Sembah Ulun disebutkan bahwa keduanya adalah orang-orang sakti mandraguna, sebab hanya dengan menancapkan tombak maka dalam waktu semalam mampu merubah hamparan rawa yang luas menjadi tanah pertanian yang subur. Cerita itu memang terkesan tidak masuk akal. Tetapi dari nalar cerita itu kita jadi tahu bahwa kedua orang itulah yang mengajarkan kepada masyarakat Sembalun yang tadinya hidup dalam budaya berburu dan meramu sehingga mengenal budaya pertanian.  Kedua orang itu juga mengajarkan bagaimana menata masyarakat agar senantiasa harmoni dengan alam. Mereka juga mengajarkan tentang ketuhanan. Karena itu kampung tertinggi di Pulau Lombok itu dinamakan SEMBAH ULUN. Menyembah Diri (Tuhan). Setelah tugas itu selesai, konon keduanya Moksa.

Read more »

Rekonstruksi Buku Teks Sekolah

Rekonstruksi Buku Teks Sekolah[1]

Oleh Jamaludin [2],

(Dewan Penasehat IMSAK-Jakarta)

Pak Jamaluddin

Pak Jamaluddin

Buku pelajaran (textbook) merupakan media pembelajaran yang dominan bahkan sentral dalam sebuah sistem pendidikan. Ia adalah kendaraan utama ‘transfusi’ materi kurikulum ke hadapan siswa. Karena perannya yang demikian sentral itu maka kemajuan dan kemunduran pendidikan suatu bangsa dapat dilacak dari tinggi-rendahnya mutu buku teks yang dibaca oleh anak didik.

Sebuah studi yang dilakukan oleh Kathy Chekley (1997), misalnya, menemukan bahwa ketertinggalan siswa Amerika dari siswa Jepang dalam penguasaan matematika dan sains berawal dari buku-buku teks sekolah Amerika yang cenderung ‘a mile wide and an inch deep’. Buku-buku teks sekolah Amerika dipenuhi oleh halaman-halaman tanpa makna (meaningless) dan terlalu detail terhadap konsep-konsep kecil, sementara buku-buku teks Jepang menganut prinsip ‘less is more’ (sedikit itu banyak). Untuk pelajaran fisika-biologi kelas 6, misalnya, buku teks Jepang hanya memuat 6 topik sedangkan Amerika 65 topik. Dihadapkan dengan kenyataan ini Amerika melalui Project 2061 yang diluncurkan tahun 2001 memberi perhatian besar terhadap penulisan buku-buku teks yang berorientasi pada kedalaman substansi dan proses. Read more »

TRADISI MERARIQ’: AKULTURASI ISLAM DAN BUDAYA LOKAL

TRADISI MERARI’: AKULTURASI ISLAM DAN BUDAYA LOKAL[1]

Oleh: Muhammad Harfin Zuhdi, MA

Prolog

Islam secara teologis, merupakan sistem nilai dan ajaran yang bersifat Ilahiyah dan transenden. Sedangkan dari aspek sosiologis, Islam merupakan fenomena peradaban, kultural dan realitas sosial dalam kehidupan manusia. Dialektika Islam dengan realitas kehidupan sejatinya merupakan realitas yang terus menerus menyertai agama ini sepanjang sejarahnya. Sejak awal kelahirannya, Islam tumbuh dan berkembang dalam suatu kondisi yang tidak hampa budaya. Realitas kehidupan ini –diakui atau tidak—memiliki peran yang cukup signifikan dalam mengantarkan Islam menuju perkembangannya yang aktual sehingga sampai pada suatu peradaban yang mewakili dan diakui okeh masyarakat dunia.

Aktualisasi Islam dalam lintasan sejarah telah menjadikan Islam tidak dapat dilepaskan dari aspek lokalitas, mulai dari budaya Arab, Persi, Turki, India sampai Melayu. Masing-masing dengan karakteristiknya sendiri, tapi sekaligus mencerminkan nilai-nilai ketauhidan sebagai suatu unity sebagai benang merah yang mengikat secara kokoh satu sama lain. Islam sejarah yang beragam tapi satu ini merupakan penerjemahan Islam universal ke dalam realitas kehidupan umat manusia. Read more »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.